Senin, 26 Oktober 2015

Sharing Materi IPC #33 - MEMBANGUN ATTACHMENT AGAR ANAK BERBAKTI PADA ORANGTUA


SharingmateriIPC/33

23 Oktober 2015
10 Muharram 1437
_______________________

Disarikan oleh : Maya Tri Bonda Sari

MEMBANGUN ATTACHMENT AGAR ANAK BERBAKTI PADA ORANGTUA

Kelekatan merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan anak melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua.

Dalam sebuah artikel yang berjudul "Peran Attachment Hanya Milik Bunda?", Om Gun (penulis) menuliskan bahwa Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan untuk kita agar membangun ikatan emosional yang positif dengan anak-anak secara sederhana.  Salah satu teladan budi pekerti dari seorang ayah yang mengutamakan kepentingan anak-anak tersaji dalam beberapa mutiara ilmu dari sabda beliau berikut ini :

“Sesungguhnya bila aku sedang shalat dan bermaksud memperpanjangnya, lalu kudengar suara tangisan anak, maka terpaksa aku mempercepat shalatku karena aku menyadari bahwa ibunya pasti terganggu oleh tangisan anaknya itu”.  (Bukhari, Kitabul Adzan 666; Muslim, Kitabul Shalat 723 ; Ahmad Musnadul Muktsirin 11624)

Hadits di atas menggambarkan bagaimana sesungguhnya jika Rasulullah mendengar suara tangisan bayi, beliau mempercepat shalatnya karena khawatir mengganggu shalat ibunya.  Begitu mulia pekerti yang dicontohkan seorang imam atau pemimpin shalat yang memahami bagaimana perasaan cemas seorang ibu yang memiliki anak masih bayi.

Kepatuhan anak dapat dipengaruhi oleh seberapa dekat hubungan antara orang tua dengan anak.  Orang tua yang kurang memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak, tentu dapat menimbulkan masalah.  Karena kesibukan dan ketidakpedulian orang  tua terhadap anak, anak menjadi merasa asing terhadap orang tuanya.

Secara alamiah, dalam situasi normal, kita akan lebih ‘mendengar’ perkataan orang yang kita kenal dibandingkan orang tidak kita kenal bukan? Lalu kita pun akan lebih ‘mendengar’ perkataan orang yang akrab dengan kita, dibandingkan dengan perkataan orang yang hanya ‘dikenal’ kita. Ketidakakraban orangtua-anak dapat menyebabkan orangtua kurang ‘mendengar’ anak dan akhirnya anak pun kurang ‘menerima’ pesan orangtua (Ihsan Baihaqi, 2010).
 
Tips membangun attachment berdasarkan usia:

0-6 bulan

Menyusui bayi, bukan hanya memberi ASI. Dari sisi pembentukan attachment, yang penting adalah pelukan, tatapan mata, juga ajakan mengobrol yang tulus dari ibu.

6-12 bulan

Tetap banyak menggendong dan memeluknya, namun juga memberikan anak kesempatan untuk mengeksplorasi dunianya sendiri. Artinya anak jangan terus dalam gendongan, tapi sesekali biarkan dia bebas merangkak atau berguling. Agar anak lebih aman (dan untuk menambah rasa percaya diri anak), pastikan tatanan rumah aman buat anak.

Batita

Pastikan anak memiliki beberapa rutinitas harian, misalnya untuk bangun, makan dan tidur. Adanya keteraturan membuat anak merasa lebih aman karena ia merasa bisa memprediksi apa yang akan terjadi berikutnya. Dalam menjalankan kegiatan-kegiatan hariannya, sudah tentu banyak penolakan dari anak. Oleh karena itu bersabarlah, selalu usahakan bicara dengan ceria atau dengan intonasi tenang, kurangi kemarahan Anda dengan berusaha lebih memahaminya: “Namanya juga anak-anak.”

Balita

Banyaklah mengajak anak bermain, sesuai kegemaran mereka. Perbanyak pula kesempatan mengobrol bersama anak, bicarakanlah berbagai topik, tentu dilakukan dengan bahasa anak.

Usia Sekolah

Anak mulai disibukkan dengan berbagai aktivitas formal maupun informal sekolah. Berikan dukungan dengan sesering mungkin berusaha menemani proses belajarnya. Apabila anak mendapat nilai buruk, jangan langsung dimarahi, namun cari tahu apa yang masih menjadi kesulitan, dan bantu untuk segera mengatasinya. Daripada menasehati, usahakan lebih banyak bertanya dan mendengarkan jawabannya dengan penuh perhatian. Anak usia sekolah lebih kritis, maka kalau Anda salah, minta maaflah.

❗❗❗Ingat yaaaa. ..

attachment tidak timbul dengan mendadak atau spontaneus.  Namun berkembang secara bertahap melalui serangkaian pengkondisian.

Orangtua waktunya sangat tersita dan sibuk dengan pekerjaan demi meraih masa depan (mencapai quadran keempat, mencapai cita-cita financial freedom sehingga bisa pensiun dini dan akhirnya memiliki banyak waktu untuk anak—agar akrab dengan anak).  Sayangnya dengan mengabaikan anak hari ini justru cita-cita untuk akrab dengan anak saat penisun dini tidak tercapai karena anaknya keburu ‘jauh’ secara emosional dengan orangtua.

Sumber

Ihsan Baihaqi. 2010. Mengapa Anak Sekarang Lebih Sering Membantah Orangtua Ya?. https://m.facebook.com/notes/yuk-jadi-orangtua-shalih/mengapa-anak-sekarang-lebih-sering-membantah-orangtua-ya/407269260699

Om Gun. Peran Attachment Hanya Milik Bunda?. https://psikdk95.wordpress.com/2012/10/14/peran-attachment-hanya-milik-bunda/

Redaksi Majalah Anakku. 2014. Menjalin Kedekatan Dengan Anak Sesuai Usia. http://www.anakku.net/menjalin-kedekatan-dengan-anak-sesuai-usia.html

Ety Sulianny. 2014. Beberapa Faktor Penyebab Anak Suka Membangkang. http://ortukuhebat.blogspot.co.id/2014/01/beberapa-faktor-penyebab-anak-suka_402.html?m=1

http://www.psychologymania.com/2011/09/perilaku-attachment-kelekatan-pada-anak.html?m=1

Divisi Program IPC ✏

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Islamic Parenting Community
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

fan page: https://m.facebook.com/isparentingcommunity

Instagram: @islamicparenting

twitter: @isparentingcom

blog:  isparenting.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar