Senin, 26 Oktober 2015

Resume Bincang Seru IPC - HS / HE

RESUME BINCANG SERU (BIRU)

Islamic Parenting Community

�� HOMESCHOOLING / HOME EDUCATION ��

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

��Narasumber : Thasya Sugito
�� IPC 1
�� PJ Management : Riesya Utami & Kamilah Fithri
��Admin : Dwi Mustika Handayani
��Host : Hafni Rosania (Pamekasan)
��Co-Host : Dayuh Ima Triani (Bogor)
��MC IPC #2 : Maya Tri Bonda Sari (Balikpapan)
��MC IPC #3 : Erni Erawaty (Kalimantan Timur)
��MC IPC #4 : Lestari (Purwakarta)
��MC IPC #5 : Miranti (Bandung)
��Tanggal Diskusi : Selasa, 15 September 2015
⌚ Waktu Diskusi : 10.00 - 11.30 WIB

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

�� Profil Narasumber

Thasya Sugito, adalah seorang Ibu dari empat orang anak. Ai Nurmalativah, adalah anak yang diasuhnya sejak kelas satu smp hingga sekarang telah duduk di bangku kuliah. Pengalaman mengasuh Ai ini menjadi pengalaman berharga untuknya mengasuh tIga anak kandungnya (M. Rayshan Fikri , 11 thn; Ayesha Rayhana, 5 thn; dan M.Razzan Abdurrahman, 3 thn). Suaminya (Alek Kuswandi) adalah partner sejatinya yang sejak tahun 1996 hingga sekarang, mewakafkan dirinya untuk mengelola dan mengembangkan asset umat di bilangan gegerkalong, Bandung. 

Berlatar belakang pendidikan dan ilmu komunikasi, ia pernah menekuni berbagai profesi, mulai dari pedagang, pemandu wisata, humas di sebuah lembaga dakwah dan pendidikan, guru, dosen, hingga akhirnya menetapkan hati untuk menjalani keseharian sebagai konsultan di Smart Talent –sebuah lembaga yang berfokus di bidang pengembangan diri, konsultansi pendidikan, dan juga evaluasi psikologis.  Hal ini didasari oleh cintanya pada dunia psikologi pendidikan. Dari sinilah, ia bertemu banyak orangtua di Indonesia (Jawa, Sumatra, Kalimantan). Berbagi dengan mereka adalah hal yang membahagiakan baginya. Dari sini juga, ia semakin meyakini bahwa anak-anak adalah anugerah terbesar yang dimiliki setiap orangtua, dan setiap anak adalah bintang di kehidupannya sendiri.

Selain itu, Thasya juga gemar mengkampanyekan ilmu kesehatan anak dan keluarga  yang rasional serta Rational Use of Medicine (RUM), sebagai buah dari keterlibatannya di kegiatan serta milis kesehatan anak dan keluarga yang digawangi oleh Yayasan Orangtua Peduli. 
Cita-citanya adalah menjadi pribadi yang penuh manfaat untuk orang lain, serta dapat berkontribusi positif di dunia pendidikan dan parenting. 

Pin BB: 53b40a88
WA : 0813 9454 1030
Email: sthasya@gmail.com
Facebook: Thasya Sugito
Blog: parentingclassonline.wordpress.com / keluargaalekkuswandi.blogspot.com

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
 
�� HOMESCHOOLING / HOME EDUCATION ��

Oleh: Thasya Sugito

����Homeschooling, meski sebenarnya bukanlah hal baru, namun kini seolah-olah menjadi trend baru dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan besarnya antusiasme masyarakat untuk melakukan homeschooling.
Tapi, apa sebenarnya homeshooling / home education ini? Apa sih bedanya homeschooling dan home education? Apa yang harus dipersiapkan bila akan memilih homeschooling?

����DEFINISI HOMESCHOOLING
��Homeschooling adalah alternatif pola pendidikan.  Definisinya menjadi tak terbilang, karena setiap keluarga yang menjalankan proses homeschooling pasti memiliki definisi sendiri tergantung pada cara/metode yang mereka gunakan. Namun, definisi paling umum yang dianut sebagian besar orang adalah: “ketika sebuah keluarga menyelenggarakan sendiri pendidikan untuk anak-anaknya, dengan tidak mengirimkannya ke sekolah”.

��Penyelenggara homeschooling adalah KELUARGA (bukan lembaga), dan basisnya adalah RUMAH.  Sebagaimana tercantum dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary, yaitu: The education of children at home by their parents (Pendidikan untuk anak-anak di RUMAH oleh ORANGTUA mereka). John Holt (1977) mendefinisikan homeschooling sebagai “Proses bertumbuh dan belajarnya seorang anak, tanpa pergi ke sekolah”.
Homeschooling menjadi ‘alat’ untuk mencapai tujuan pendidikan. Rentangnya sangat luas. Dari model “unschooling” (tidak terstruktur dan sama sekali jauh dari pola sekolah), hingga model “school at home” (terstruktur dan mirip dengan pola sekolah).

����HOMESCHOOLING / HOME EDUCATION
Sering terdengar istilah homeschooling, namun tidak jarang juga terdengar istilah home education. Lalu sebagian pihak ada yang mendefinisikan berbeda antara homeschooling dan home education. Benarkah dua istilah ini memiliki arti yang berbeda?
Wikipedia menyebutkan bahwa homeschooling juga dikenal dengan kata home education. Hanya saja, kata homeschooling banyak dgunakan di daerah Amerika Utara, sedangkan istilah home education populer di Britania Raya, Eropa, dan Negara-negara persemakmuran.

��Jadi, tidak ada perbedaan definisi antara homeschooling dan home education.

����MODEL  DAN METODE HOMESCHOOLING
Ada banyak sekali model dan metode homeschooling yang dapat kita adopsi bila ingin menjalankan homeschooling. Berikut diantaranya:

��School at-home Approach,  adalah model pendidikan yang serupa dengan yang diselenggarakan di sekolah. Hanya saja, tempatnya tidak di sekolah, tetapi di rumah. Metode ini juga sering disebut textbook approach, traditional approach, atau school approach.

��Unit studies Approach, adalah model pendidikan yang berbasis pada tema (unit study). Pendakatan ini banyak dipakai oleh orang tua homeschooling. Dalam pendekatan ini, siswa tidak belajar satu mata pelajaran tertentu (matematika, bahasa, dsb), tetapi mempelajari banyak mata pelajaran sekaligus melalui sebuah tema yang dipelajari. Metode ini berkembang atas pemikiran bahwa proses belajar seharusnya terintegrasi (integrated), bukan terpecah-pecah (segmented).

��The Living Books Approach, adalah model pendidikan melalui pengalaman dunia nyata. Metode ini dikembangkan oleh Charlotte Mason. Pendekatannya dengan mengajarkan kebiasaan baik (good habit), keterampilan dasar (membaca, menulis, matematika), serta mengekspose anak dengan pengalaman nyata, seperti berjalan-jalan, mengunjungi museum, berbelanja ke pasar, mencari informasi di perpustakaan, menghadiri pameran, dan sebagainya.

��The Classical Approach, adalah model pendidikan yang dikembangkan sejak abad pertengahan. Pendekatan ini menggunakan kurikulum yang distrukturkan berdasarkan tiga tahap perkembangan anak yang disebut Trivium. Penekanan metode ini adalah kemampuan ekspresi verbal dan tertulis. Pendekatannya berbasis teks/literatur (bukan gambar/image).

��The Waldorf Approach, adalah model pendidikan yang dikembangkan oleh Rudolph Steiner, banyak ditetapkan di sekolah-sekolah alternatif Waldorf di Amerika. Karena Steiner berusaha menciptakan setting sekolah yang mirip keadaan rumah, metodenya mudah diadaptasi untuk homeschool.

��The Montessori Approach, adalah model pendidikan yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori. Pendekatan ini mendorong penyiapan lingkungan pendukung yang nyata dan alami, mengamati proses interaksi anak-anak di lingkungan, serta terus menumbuhkan lingkungan sehingga anak-anak dapat mengembangkan potensinya, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.

��The Eclectic Approach,  memberikan kesempatan pada keluarga untuk mendesain sendiri program homeschooling yang sesuai, dengan memilih atau menggabungkan dari sistem yang ada.

��Unschooling Approach, berangkat dari keyakinan bahwa anak-anak memiliki keinginan natural untuk belajar dan jika keinginan itu difasilitasi dan dikenalkan dengan pengalaman di dunia nyata, maka mereka akan belajar lebih banyak daripada melalui metode lainnya. Unschooling tidak berangkat dari textbook, tetapi dari minat anak yang difasilitasi.

����Selain itu, pertanyaan yang sering muncul adalah:
Bagaimana dengan legalitasnya?
Bagaimana dengan ijazahnya anak homeschooling?

��Pemerintah menjamin legalitas peserta homeschooling melalui UU no.20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional. Homeschooling termasuk dalam jalur penddikan informal, karenanya, saat akan menjalankan homeschooling, peserta dipersilahkan melapor ke dinas pendidikan luar sekolah setempat.  Untuk di Indonesia, nantinya peserta homeschooling bisa mengikuti ujian kesetaraan Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP) dan Paket C (setara SMA).

����Mudah-mudahan, dengan sedikit memahami tentang homeschooling ini, dapat memberkan alternatif bagi kita, para orangtua untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putri kita.  ����

Sumber:
�� Konsep Dasar Homeschooling, KOSMIK(Komunitas Homeschooling Mitra Keluarga), 2005
��Tamasya Belajar, Linda Dobson, 2005

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

❔Sesi Tanya Jawab

1⃣ Uni Thasya, Bagaimana cara agar dapat memilih metode terbaik yang akan diterapkan di Homeschooling dan dapat sesuai dengan cara berpikir dan belajar anak? Apakah sebelum Homeschooling dilaksanakan harus tes Minat bakat, Tes Stifin Terlebih dahulu?  Terimakasih
Inna_IPC1_Bandung

JAWABAN :

1⃣ Bunda Inna yang sholihah, metode pengajaran memang sebaiknya disesuaikan dengan gaya belajar anak. Untuk mengetahui gaya belajar anak, dapat dilakukan observasi sejak bayi. Bayi? Iya...sejak bayi sebetulnya anak sudah menunjukkan gaya belajarnya, hanya saja kita terkadang 'lupa' mengobservasinya. Insya Allah nanti akan saya upload di dropbox ya...lembar observasi yang bisa membantu kita sebagai orangtua dalam mengenali gaya belajar anak.
Selanjutnya, saat menyusun program homeschooling perhatikan juga aspek2 lainnya.  contoh: profil anak seperti apa yang akan dibentuk, 'kurikulum' atau program pengajaran seperti apa yang akan kita lakukan bersama, dll.

2⃣ Alhamdulillah tema Biru kali ini sesuai dengan 'kegalauan' saya saat ini. teh Tasya yang dirahmati Allah, terimakasih atas kesempatan dan ilmu nya.. begini teh, anak saya usia 4 tahun. Sudah masuk kategori TK A, jujur saya ingin memasukkan sekolah tk formal, tapi rata rata yang bagus fasilitas dan metode nya, biaya yang dipatok untuk hemat saya sangat mahal. Saya berniat meng Homeschoolingkan anak saya, tapi bagaimana secara psikologis interaksi sosialnya, apakah anak anak HS tidak akan mengalami masalah interaksi sosial krn tidak ada teman sebaya di kelas nya. Trus, mengenai waktu ideal berapa jam sehari anak anak menjalani proses HS tsb? Syukron katsir atas penjelasannya..
Nailah-jakarta-ipc4

JAWABAN :

2⃣ Mbak Nailah yang disayangi Allah, masalah interaksi sosial (sosialisasi) selalu menjadi pertanyaan para ortu yang akan memulai HS.  ��
Pengalaman saya dan teman2 yang sudha menjalani HS mbak, nak-anak justru menjadi lebih terasah social skill-nya lho mbak, karena...sesi field trip (baca: jalan2) nya lebih banyak ketimbang di sekolah. Dan saat ia bertemu dengan banyak orang yang lintas usia itulah ternyata social skill-nya lebih terasah.  Hasilnya, self esteem dan self confidence mereka alhamdulillah terbangun dengan baik. Dan, saya selalu tekankan, bahwa itulah kuncinya. Kalau self esteem, self confidence dan social skill anak sudah terbangun baik, insya Allah anak akan mudah 'diterjunkan' dimanapun. ��
Berikutnya, mengenai waktu ideal...ini hanya anak dan orang tua yang tahu. Tergantung dari persepsi mengenai HS itu sendiri. Bila HS dipersepsikan seperti 'memindahkan' sekolah ke rumah, maka waktu yang ideal ya hanya 2 jam untuk anak usia 4 tahun. Tapi bila HS dimaknai sebagai program pembelajaran yang menyeluruh, maka sepanjang hari menjadi program HS. Begitu mbak Nailah, kalau masih ada yang ingin ditanyakan, silahkan.. ����

3⃣ Assalamualaikum mbak thasya...
Adakah contoh homeschooling utk usia SMP - SMA?
Yang sering saya temui adalah homeschooling untuk preschool- SD..
Dan apakah mba thasya menerapkan konsep homeshooling ini di keluarga?
Bisakah kita mendapat semacam kisi kisi / plan / jurnal pendidikan yang harus tercapai dalam 1tahun ajaran di dinas pendidikan? atau harus dibuat sendiri?
Rhea_banyumas_Ipc3

JAWABAN :

3⃣ Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh mba Rhea... ��
Banyak contoh di sekitar kita mbak. Saya sendiri menjalankan Homeschooling untuk anak asuh saya yang usia SMP-SMA, hingga akhirnya lulus SMA lewat ujian persamaan.
Untuk kisi-kisi, mbak bisa download kurikulum indonesia dari web diknas mbak. Insya Allah disana kurikulum untuk semua level ada ��. Kalaupun mbak ingin merancang sendiri program belajarnya, sangat bisa lho mbak....referensinya bisa lihat dari kurikulum cambridge atau IB.

4⃣ Bagaimana cara untuk memulai homeschooling? Karena di rumah belum terjadwal/disiplin waktu.
Jadi anak-anak masih beraktivitas sesuai keinginannya... Terima kasih
Nuni_Jkt_IPC5

JAWABAN :

4⃣ Mba Nuni yang dirahmati Allah, Sebetulnya ada jadwal atau tidak, semua tergantung pada kita. Ingin seperti apakah profil keluarga-profil anak-anak kita nantinya. Turunkan dari profil tersebut. Nanti akan ketemu harus seperti apa pola homeschoolingnya.
Memang sebagian besar keluarga yang menerapkan HS, biasanya memiliki jadwal untuk masing-masing anak. Itu bisa dimulai dengan duduk bersama dalam sebuah 'family meeting', lalu diskusikan dan sepakati bersama apakah akan membuat jadwal khusus atau tidak.
Pola homeschooling tanpa jadwal, sebetulnya ada mba. Namanya Unschooling. Dalam Unschooling, anak dibiarkan mengerjakan apa yang diinginkannya tanpa diarahkan oleh orang tua. Orang tua hanya berperan sebagai fasilitator minat anak.

5⃣ Assalamu'alaikum mba thasya,
1. sekiranya dari sekian banyak metode homeschool, sejauh ini mana yang dirasa paling efektif?
2. bolehkan metode itu di mix..saling digunakan di waktu yang bersamaan atau di beberapa aktivitas secara bersamaan?
3. Idealnya mulai umur berapa anak bisa dimulai homeschooling?
Jazakillah khayran katsiran :)
Chacha_Tokyo_IPC 5

JAWABAN :

5⃣ Wa'alaykumussalam mba Chacha....
1. Untuk metode homeschooling, saya sendiri pernah mencoba pola school at home untuk yang usia sma, unit studies untuk yg usia SD, dan Eclectic untuk yang usia prasekolah. Hingga akhirnya saya berkesimpulan, bahwa untuk anak-anak saya, metode yang cocok adalah school at home utk yg SMA, dan Eclectic untuk yg prasekolah-SD. Semuanya kembali ke masing-masing keluarga. Disinilah enaknya homeschooling, kita sendiri yang menentukan, mana metode yang paling efektif untuk keluarga kita.
2. Mix --> boleh banget....ga ada aturan yang saklek kok mba. Yang terpenting dalam homeschooling, kumpulkan portofolio, sehingga bila suatu saat ada kendala / anak ingin masuk sekolah formal, portofolio bisa digunakan sebagai dasar penilaian.
3. Usia berapa? sejak bayi mbak...hehe, karena dalam persepsi saya, homeschooling adalah sebuah integrated program. Ketika kita mengajarkan pre-reading skill pada bayi kita (membacakan buku untuknya, membaca bersama), itupun sudah termasuk homeschooling ��✅

6⃣ Bagaimana melihat kedalaman materi untuk HS? Apakah ada panduannyal
Maya_ Balikpapan_IPC2

JAWABAN :

6⃣ Mba Maya....kangen deh ��
Dalam proses pembelajaran, siklusnya adalah perencanaan-pembelajaran-assessment/evaluasi-perencanaan lagi, dst.
Kedalaman materi siswa HS, akan tergambar dalam proses evaluasi. Dan evaluasi, harus dibuat sesuai dengan  perencanaan dan proses pembelajarannya.
Panduannya, ada di masing-masing kurikulum (bila mengikuti salah satu kurikulum resmi). Bila membuat kurikulum sendiri, maka rancang panduang evaluasinya sejak awal. sehingga kita bisa cek kedalaman pemahaman materi siswa/anak setiap saat.

7⃣  Assalamualaikum, teh thasya yg dirahmati Allah swt saya lia-jakarta. Ingin menanyakan untuk materi yang bisa digunakan, karena selama ini saya hanya menerapkan pelajaran agama aja seperti hapalan, huruf hijaiiyah (iqro) kadang cerita nabi dan jg saya kurang kreatif sebagai ibu. Mohon bantuannya supaya ada penambahan materi supaya bisa konsisten. Jazaakillah teh thasya
lia_Jakarta_IPC5

JAWABAN :

7⃣ Wa'alaykumussalam mbak Lia sholihah, sayang usia anaknya tidak disebutkan ya...
Untuk materi/bahan ajar, sebetulnya sumbernya banyak mbak, di internet pun bertebaran �� Asalkan, kita sudah susun terlebih dahulu program yang akan dijalani. Nah, menyusun program belajar ini gampang-gampang susah, tapi saya yakin semua ibu pasti bisa.
Mudahnya begini mbak, buat 'profil anak' yang kita harapkan dulu.
Sebagai contoh, sewaktu merancang program HS untuk anak laki-laki saya yg berusia 3 tahun, saya membuat profil anak seperti ini:
�� Shiddiq, anak akan bicara benar berkata tepat, akhlak baik.
�� Fathonah, anak akan menjadi orang yang akalnya panjang, cerdas, berwibawa sbg pemimpin, tangkas menyelesaikan masalah
�� Tabligh, anak akan senantiasa menyampaikan yang benar, tanpa ragu
�� Amanah, anak dapat dipercaya.
�� Cinta Allah, cinta ortu, cinta sesama, dan cinta diri sendiri (self esteem), cinta ilmu, cinta alam, dan cinta belajar

Dari situlah saya turunkan programnya untuk satu tahun itu (3-4tahun), contohnya:
�� shalat lima waktu di masjid, hadir di masjid sebelum imam takbiratul ihram
�� berbahasa inggris aktif
�� menghafal juz 30
�� olahraga teratur 3x seminggu @20 menit
Sebetulnya panjang, tapi sulit dituliskan disini, saya sambung lain waktu ya, untuk pembuatan programnya mbak ��

8⃣ Fathimah_ternate_ipc3
assalamu'alaikum teh thasya.. menarik sekali materinya.. yang ingin saya tanyakan bisakah homeschooling diterapkan oleh ibu pekerja? karena saat ini saya sebagai PNS yang bekerja dari senin-sabtu jam 8.00-14.00.. anak-anak saya usia 4th dan 2th diasuh sama kakeknya selama saya bekerja.. terima kasih..

JAWABAN :

8⃣ Wa'alaykumussalam mba Fathimah....
Masya Allah...seneng banget denger ada ibu bekerja yang siap meluangkan waktu untuk HS-kan anaknya...
Asalkan mbak dan kakeknya yang mengasuh siap berkomitmen untuk sama-sama menjalankan program yang disepakati, insya Allah bisa mbak. Persiapkan diri mbak untuk ekstra 'bangun' disaat anak-anak sudah tidur, untuk mempersiapakan bahan belajarnya, serta mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak terkerjakan di saat mereka masih butuh mbak untuk menemani mereka belajar ya...
Semangat ya mbak Fathmah...semoga Allah mudahkan niat mbak ��

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Alhamdulillah...
Yang ingin saya tekankan, semua orang tua pasti bisa meng-HS-kan anaknya. Insya Allah...
Kunci pertama adalah, selalu minta pertolongan dan bimbingan Allah dalam mendidik anak (baik HS ataupun tidak), dan berikutnya, jangan pernah berhenti cari ilmu...dan saya yakin, engan bergabung di IPC saja, sudah memperlihatkan bahwa ibu-ibu disini adalah ibu-ibu yang haus ilmu, insya Allah.. ��

Terimakasih mba Hafni dan Mba Dayuh.
Terimakasih IPCers semua.
Jazakumullahu khayran katsiiran.
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
��

��Div. Administrasi��

��〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
�� Islamic Parenting Community �� 〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰��

�� fan page: https://m.facebook.com/isparentingcommunity

�� Instagram: @islamicparenting

�� twitter: @isparentingcom

�� blog: isparenting.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar