⭐SharingmateriIPC/14
PRINSIP DASAR PROPHETIC PARENTING
Oleh: Thasya Sugito
Rasulullah yang mulia, telah mencontohkan begitu banyak metode pendidikan. Berbagai metode ini, disimpulkan para ahli dari hadits-hadits dan perilaku beliau kepada anak-anak. Selain itu, Rasulullah pun seringkali mencontohkan lewat dialognya dengan para orangtua (bapak) tentang cara memperlakukan anaknya.
Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Seseorang yang mendidik anaknya itu lebih baik daripada bersedekah satu sha’” (HR. At-Tirmidzi). Dan pada hadits yang lain, Rasulullah bersabda “Seorang ayah tidak pernah memberi kepada anaknya sesuatu yang lebih baik dari pada adab yang mulia” (HR. At-Tirmidzi).
Al Qur’an dan hadits begitu banyak membahas terkait proses mendidik anak ini. Dan berikut adalah prinsip-prinsip dasar metode mendidik anak ala Nabi:
1⃣ Suri Teladan yang Baik
Teladan yang baik berdampak besar pada kepribadian anak.
“Kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.’
Rasulullah memerintahkan para orangtua untuk menjadi suri teladan yang baik, terutama dalam bersikap dan berperilaku jujur, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurayrah Radhiyallahu ‘Anhu: “Rasulullahu SAW bersabda, “ barang siapa yang mengatakan kepada seorang anak kecil, ‘kemarilah aku beri sesuatu', Namun ia tidak memberinya, maka itu adalah suatu kedustaan.”
2⃣ Memilih Waktu yang Tepat dalam Mengarahkan Anak
Memilih waktu yang tepat dalam mengarahkan anak akan menghasilkan pengaruh yang signifikan terhadap nasehatnya. Memilih waktu yang tepat juga akan meringankan tugas orangtua dalam mendidik anak. Rasulullah SAW sangat memperhatikan pemilihan waktu dan tempat untuk mengarahkan perilaku anak, membangun pola pikirnya, dan menumbuhkan akhlak yang baik pada diri anak.
Dalam hal ini, Rasulullah memberikan acuan tiga waktu mendasar dalam mengarahkan anak:
Dalam perjalanan
Waktu makan
Saat anak sakit
3⃣ Bersikap Adil
Diantara hadits yang menceritakan anjuran untuk berbuat adil kepada anak-anak adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’I dan Ibnu Hibban dari hadits an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma: “Berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian, Berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian, Berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian.” Dan, dalam riwayat lain: Rasulullah bersabda, “Berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian dalam pemberian seperti kalian suka apabila mereka berlaku adil terhadap kalian dalam hal berbakti dan kelembutan.”
Lantas, kapan diperbolehkan memberi lebih? Disebutkan dalam kitab al-mughni karya Ibnu Qudamah: “Apabila sebagian anak diberi pemberian lebih karena sesuatu hal, seperti kebutuhan yang mendesak, waktu yang mendesak, kebutaan, banyaknya anak, sibuk menuntut ilmu, dan berbagai hal lainnya, atau tidak memberi kepada sebagian anak karena kefasikannya atau karena pemberian tersebut akan dipergunakan untuk kemaksiatan, maka diriwayatkan dari Ahmad pendapat yang menunjukkan bolehnya hal tersebut dilakukan berdasarkan fatwa beliau tentang bolehnya memberi wakaf kepada sebagian anak karena kebutuhan dan tidak diperbolehkan apabila dikarenakan oleh keinginan untuk melebihkan saja. Pemberian juga semakna dengan hal ini.”
4⃣ Menunaikan Hak Anak
Menunaikan hak anak dan menerima kebenaran darinya dapat menumbuhkan perasaan positif dalam dirinya. Membiasakan diri menerima yang benar meskipun datangnya dari seorang anak kecil, akan menjadi teladan yang baik bagi anak.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad RA: Bahwasanya Rasulullah SAW diberi minuman. Beliau minum. Sementara di samping kanan beliau duduklah seorang anak bernama al-Fadhl bin Abbas, dan di samping kiri beliau duduk orang-orang dewasa. Beliau berkata kepada anak tsb: “Apakah engkau mengizinkanku untuk memberi minum kepada mereka (terlebih dahulu)?” Dia menjawab, “Tidak, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun.” Maka, Rasulullah SAW meletakkan cawan itu di tangan anak tsb.
5⃣ Doa
Doa kedua orang tua untuk anaknya selalu makbul di sisi Allah SWT. Do’alah yang menguatkan rasa sayang dan cinta kasih, sehingga dengan begitu, keduanya akan semakin tunduk pada Allah SWT dan berusaha sekuat tenaga untuk dapat memberikan yang terbaik untuk masa depan anaknya.
Karenanya, besar sekali keburukan yang akan timbul bila orangtua mendoakan keburukan bagi anaknya. Imam Al Ghazali menyebutkan ada seseorang datang kepada Abdullah bin Mubarak untuk mengadukan kedurhakaan anaknya. Abdullah bin Mubarak bertanya kepadanya, “Apakah engkau sudah mendoakan keburukan atasnya?” Dia menjawab, “Benar.” Abdullah berkata, “Kalau begitu engkau telah merusaknya.”
Rasulullah pun pernah bersabda: “Janganlah mendoakan keburukan atas diri kalian, janganlah mendoakan keburukan atas anak-anak kalian, janganlah mendoakan keburukan atas pembantu-pembantu kalian, janganlah mendoakan keburukan atas harta kalian, ketika bertepatan denan waktu Allah menurunkan pemberian kepada kalian, doa kalian dikabulkan.”
Maka, wajib bagi para orangtua untuk menjaga lisannya, karena kita tidak pernah tahu, kapan waktunya Allah mengijabah doa-doa kita.
6⃣ Membelikan Anak Mainan
Pengakuan Rasulullah SAW terhadap mainan Aisyah RA, menjadi bukti tentang pentingnya arti mainan bagi anak-anak dan kecintaan mereka pada benda-benda kecil yang terbentuk dan memiliki rupa. Kisah Rasulullah SAW menyaksikan burung pipit mainan Abu Umair juga menjadi bukti lain tentang pentingnya mainan yang dapat dipegang dan dimainkan oleh kedua tangannya.
Berikan mainan untuk anak, sesuai usia dan kemampuannya. Bila akan membeli mainan, perhatikan kriteria di bawah ini:
Carilah mainan yang dapat memicu anak untuk selalu bergerak yang dengannya jasmaninya menjadi sehat
Carilah mainan yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan inisiatif
Carilah yang termasuk mainan bongkar pasang (merangsang daya inovatif)
Carilah mainan yang mendorong anak untuk meniru tingkah laku dan cara berpikir positif orang dewasa
7⃣ Membantu Anak Untuk Berbakti dan Mengerjakan Ketaatan
Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Abu Hurayrah ra: “Rasulullah bersabda, “Bantulah anak-anak kalian untuk berbakti. Barangsiapa yang menghendaki, dia dapat mengeluarkan sifat durhaka dari anaknya.”
Disini terlihat besarnya peran orangtua untuk membantu anak agar berbakti pada orangtuanya. Siapkan sarana untuk memudahkan anak berbakti pada orangtua dan mengerjakan ketaatan pada Allah SWT, serta ciptakan suasana nyaman agar anak senantiasa termotivasi untuk berbuat baik.
Selain itu, orangtua pun dapat melenyapkan sifat durhaka dari anak mereka, yaitu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan waktu yang tepat.
Bahkan, Rasulullah SAW bersabda: “ Semoga Allah memberi rahmat kepada orangtua yang membantu anaknya berbakti kepadanya.”
8⃣ Tidak Suka Marah dan Mencela
Rasulullah SAW tidak pernah mencela perilaku anak-anak. Hal ini dapat kita lihat dari kisah Anas RA yang menjadi pembantu di rumah Rasulullah selama 10 tahun. Bahkan ketika ada anggota keluarga beliau yang mencela Anas, Rasul berkata: “Biarkanlah dia. Kalau dia mampu, pasti dilakukannya.”
Dalam riwayat lain, Rasulullah berkata kepada seorang yang sedang mencela anaknya atas sesuatu yang dilakukan anak tersebut: “Anakmu adalah anak panah dari tempat anak panahmu.” Artinya, ketika ia mencela anaknya, maka hakikatnya, ia sedang mencela dirinya sendiri. Karena, dialah yang telah mendidik anaknya demikian.
Seorang Ulama menjelaskan pula, bahwa “Bila kita mencela anak, hal ini akan menyebabkan anak memandang remeh segala celaan dan perbuatan tercela.”
Sungguh, hikmah dan teladan yang Rasulullah SAW contohkan begitu luas dalam hal mendidik anak. Maka sebagai muslim, wajib kita mempelajarinya. Insya Allah dalam seri-seri berikutnya, akan kami paparkan lebih mendalam mengenai metode-metode Rasulullah dalam mendidik anak.
Maraji’:
Pendidikan Anak Dalam Islam, Dr. Abdullah Nashih Ulwan, 2007
Ihya ‘Ulumuddin, Al Ghazali, 1966
Prophetic Parenting, Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, 2009
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Islamic Parenting Community
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
fan page: https://m.facebook.com/isparentingcommunity
Instagram: @islamicparenting
twitter: @isparentingcom
blog: isparenting.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar