Senin, 26 Oktober 2015

Sharing Materi IPC #12 - Tauhid, Fondasi Utama Mendidik Anak

⭐SharingmateriIPC/12

TAUHID, Fondasi Utama Pendidikan Anak

Oleh: Thasya Sugito

Allahu Akbar….Allahu Akbar….!
Adzan Maghrib berkumandang. Seorang anak berusia 11 tahun, bergegas beranjak menuju masjid dekat rumahnya. Di jalan menuju ke masjid, ia melewati sekelompok anak remaja usia 17an, tetap asyik ‘nangkring’ di depan rumah salah seorang warga. Hingga sang anak 11 tahun pulang dari masjid setelah melaksanakan shalat maghrib, mengaji, dan shalat isya, sekelompok remaja tadi masih tetap bergeming di tempatnya sambil bermain gitar. Lantas si anak 11 tahun mengeluh pada Ibunya, ‘Kenapa saya selalu sendirian di masjid ya bu, sedang kakak-kakak itu ketika saya ajak, justru mengejek saya dan mengatakan saya ini aneh’. Ibunya pun menjawab: ‘Biarlah kita menjadi yang asing di hadapan manusia nak, karena Rasulullah bersabda "Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing sebagaimana mulanya, maka BERBAHAGIALAH bagi orang yang asing”.
Apa yang menjadi prolog tadi, seakan telah menjadi pemandangan umum di perkotaan. Kepekaan terhadap panggilan Allah menjadi sulit untuk ditemukan. Anak-anak remaja lebih banyak terlihat di konser-konser musik, ketimbang di masjid-masjid besar. Adzan lebih banyak dikumandangkan oleh kakek-kakek lanjut usia, pengajian lebih banyak diisi oleh ibu-ibu sepuh, dan kelompok remaja masjid minim sekali peminatnya.
Di manakah letak missed-nya? Karena ketika mereka masih kanak-kanak, tidak pernah terlepas dari mengaji di TPA. Namun saat beranjak remaja, seolah sangat berjarak dari masjid?

Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita agar mengajari anak kita yang baru belajar berkata-kata untuk mengucapkan kalimat tauhid: Lâ ilâha illallâh. Dalam hal ini, marilah kita perhatikan sebuah hadits dari Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan bahwa Nabi Saw. telah bersabda: “Ajarkanlah kepada anak-anak kalian pada permulaan bicaranya ucapan Lâ ilâha illallâh, dan ajarkanlah pula di akhir hayatnya mengucapkan Lâ ilâha illallâh.” (HR. Baihaqi)

Mengajarkan tauhid ini menjadi hal yang teramat penting sejak awal kehidupan seorang anak karena Allah sudah memberikan petunjuk yang haq melalui Al Qur’an dan Sunnah. Allah sudah memberikan petunjukNya. Maka pahamilah tujuan dan misi hidup kita sebagai manusia.

Bila merujuk pada QS. Adz Dzariyat: 56, maka tujuan hidup manusia adalah: IBADAH (“Dan Aku tidak  menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu”). Ibadah bukan semata yang mahdhah. Segala sesuatu yang diniatkan sebagai ibadah, akan bernilai ibadah. Karena niat adalah kuncinya, maka diperlukan Tauhid yang kuat. Karena Tauhidlah yang menjadi fondasi untuk melakukan segala ibadah /amal hanya karena Allah semata.

����TAUHID IBARAT POHON����

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit” (QS. Ibrahim: 24)

��Tauhid adalah sesuatu yang tak nampak, bila diibaratkan, ia adalah akar. Jika akarnya kuat, sekencang apapun angin menerpa, ia tak akan mudah goyah. Begitulah bila seorang muslim melakukan sesuatu dengan fondasi tauhid��

Karena itulah kita harus sangat memperhatikan pendidikan tauhid anak-anak kita secara tuntas. Agar ia tidak hanya melakukan shalat, puasa, tilawah, hanya karena takut pada orangtua dan guru, atau justru hanya mengejar hadiahnya.

��Dalam kitab Ihya’Ulumuddin, Imam Al Ghazali menjelaskan tahapan menanamkan tauhid, yaitu:

1⃣ Al Hifdz (menghafal)
Menghafal yang dimaksud adalah dengan 'talqin', yaitu membacakan konsep-konsep tauhid terus menerus hingga anak hafal (Siapa Tuhanmu? Siapa Rasulmu?). Setelah mampu mengucapkan dengan lisannya, barulah kemudian memahamkan untuk menguatkan konsep tersebut.
Mentalqin anak dengan konsep tauhid, seperti menanam benih tanaman. Benih tersebut akan tumbuh subur jika terus disirami dengan pemahaman.
Selain itu, bila anak sudah secara reflex terbiasa mengucapkan kalimat tauhid, maka insya Allah ia akan mudah menghayati maknanya.

2⃣ Al Fahm (memahami)
Bila tidak dilanjutkan dengan pemahaman, maka keyakinan yang muncul sebagai hasil dari proses talqin tadi akan mudah goyah. Karenanya, pahamkan anak dengan menanamkan aktivitas ibadah (shalat, tilawah, membaca tafsir qur’an, menghafal dan memahami hadist, berkumpul dalam majelis ilmu, dll). Inilah maksud dari analogi ‘menyiram benih-benih talqin’ tadi. Insya Allah, dengan begini, akarnya akan kuat menancap dan batangnya akan tumbuh dengan kokoh.

3⃣ Al I’tiqod - Al Iqon - Al Tashdiq (Ikatan-Keyakinan-Pembenaran)
Jauhi cara mengajarkan tauhid dengan cara berfilsafat. Maksudnya adalah, mengajarkan tauhid, tapi tidak menanamkan dan mengamalkannya. Dan juga jangan mengajarkan tauhid dengan pemahaman yang rumit, atau berdebat. Imam Al Ghazali mengibaratkan filsafat bak palu besi. Palu besi yang dipukulkan ke pohon yang baik, akan merusak pohon tersebut.

☀Selanjutnya, adalah tahapan mengenalkan Allah. Dalam buku Positive Parenting karya Ust. Muhammad Fauzil Adhim, setidaknya ada tiga hal yang perlu kita berikan kepada anak saat mereka mulai bisa kita ajak berbicara dan kaitannya dengan mengenalkan Allah pada mereka: 

1⃣ Memperkenalkan Allah kepada anak melalui sifat-Nya yang pertama kali dikenalkan, yakni Al-Khaliq (Maha Pencipta). Kita tunjukkan kepada anak-anak kita bahwa kemanapun kita menghadapkan wajah, di situ kita menemukan ciptaan Allah. Kita tumbuhkan kesadaran dan kepekaan pada mereka, bahwa segala sesuatu yang ada di sekelilingnya adalah ciptaan Allah.  Semoga dengan demikian, akan muncul kekaguman anak kepada Allah. Ia merasa kagum, sehingga tergerak untuk tunduk kepada-Nya. 

2⃣ Kita ajak anak untuk mengenali dirinya dan mensyukuri nikmat yang melekat pada anggota badannya. Dari sini kita ajak mereka menyadari bahwa Allah Yang Menciptakan semua itu. Perlahan-lahan kita rangsang mereka untuk menemukan amanah dibalik kesempurnaan penciptaan anggota badannya. Secara bertahap, kita ajarkan kepada anak proses penciptaan manusia. Tugas mengajarkan ini, kelak ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, dapat diajarkan oleh orang tua bersama guru di sekolah. Selain merangsang kecerdasan mereka, tujuan paling pokok adalah menumbuhkan kesadaran--bukan hanya pengetahuan-- bahwa ia ciptaan Allah dan karena itu harus menggunakan hidupnya untuk Allah.

3⃣ Memberi sentuhan kepada anak tentang sifat kedua yang pertama kali diperkenalkan oleh Allah kepada kita, yakni Al Karim. Di dalam sifat ini berhimpun dua keagungan, yakni 'kemuliaan' dan 'kepemurahan'. Kita asah kepekaan anak untuk menangkap tanda-tanda kemuliaan dan sifat pemurah Allah dalam kehidupan mereka sehari-hari, sehingga tumbuh kecintaan dan pengharapan kepada Allah.  Sesungguhnya manusia cenderung mencintai mereka yang mencintai dirinya, cenderung menyukai yang berbuat baik kepada dirinya dan memuliakan mereka yang mulia. Kelak, jika anak sudah tumbuh besar dan dapat menirukan apa yang kita ucapkan, Rasulullah saw memberikan contoh bagaimana mengajarkan untaian kalimat yang sangat berharga untuk keimanan anak di masa mendatang. Kepada Ibnu Abbas yang ketika itu masih kecil, Rasulullah saw berpesan: "Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasihat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikitpun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering." (HR. Tirmidzi)

��Sungguh, Allah akan menjaga mereka yang menjagaNya….
Ihfadzillah yahfazkum.. (Jagalah Allah dan Allah akan menjagamu)��

�� Maraji’:

Ikhtisar Ihya’ Ulumuddin, Al Ghazali, 1966

Positive Parenting, Mohammad Fauzil Adhim, 2006

��〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
�� Islamic Parenting Community �� 
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰��

�� fan page: https://m.facebook.com/isparentingcommunity

�� Instagram: @islamicparenting

�� twitter: @isparentingcom

�� blog:  isparenting.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar