⭐SharingmateriIPC/23
Tahap Perkembangan Psikososial dan Kognitif Anak menurut Psikologi dan Islam
(Usia 7-12 tahun)
(Oleh Thasya Sugito)
Industrial vs Inferioritas
Tahap ini merupakan tahap usia 6-12 tahun (school age).
Anak-anak di usia ini memiliki level perkembangan kognitif yang berada pada Periode Operasional Konkret (Piaget, dalam Clickhar, 2012). Pada masa ini anak sudah dapat membentuk operasi mental atas pengetahuan yang mereka miliki. Mereka mampu menambah, mengurangi dan mengubah. Kemampuan kognitif ini memungkinkan mereka mampu memecahkan masalah logika yang umum.
Dalam Islam, fase ini disebut masa tamyiz (7-10 tahun).
Di fase ini anak sudah mulai mampu membedakan baik dan buruk berdasarkan nalarnya sendiri sehingga di fase inilah kita sudah mulai mempertegas pendidikan pokok syariat. Akan lebih baik jika anak tidak hanya melakukan, tetapi juga memahami alasan mengapa ia melakukan sesuatu (Clickhar, 2012).
Poin pembentukan karakter yang harus diperhatikan pada masa ini adalah keuletan/kegigihan/ kerajinan dalam melakukan tugas-tugasnya serta anak bangga pada dirinya sendiri (menghargai dirinya sendiri, serta merasa dirinya berhasil menjalankan peran-perannya).
Mengapa?
Karena pada fase ini:
anak mulai keluar dari lingkungan keluarga ke lingkungan sekolah sehingga semua aspek memiliki peran misal orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya
Namun anak tidak selalu mendapatkan itu semua dalam lingkungan sehingga orang tua harus paham tentang kondisi sekolah anak, teman sepermainanya, dlsb.
Pada usia ini anak dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil memenuhi tuntutan lingkungan sehingga anak mengembangkan sikap rajin.
Jika anak tidak dapat meraih sukses karena mereka merasa tidak mampu (inferioritas), anak dapat mengembangkan sikap rendah diri.
Pada tahap ini, anak akan punya keinginan untuk menghasilkan sesuatu yang bersifat intelektual dan diterima lingkungan. anak sudah mulai masuk ke lingkungan yang lebih luas, anak menyadari kebutuhan untuk mendapat tempat dalam kelompok seumurnya. Anak harus berjuang untuk mencapai hal tersebut. Bila dalam kenyataannya ia masih dianggap sebagai anak yang lebih kecil baik di mata orang tua maupun gurunya, maka akan berkembang perasaan rendah diri. Anak yang berkembang sebagai anak yang rendah diri, tidak akan pernah menyukai belajar atau melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual. Yang lebih parah, anak tidak akan percaya bahwa ia akan mampu mengatasi masalah yang dihadapinya.
Dengan demikian peranan orang tua maupun guru sangat penting dalam memperhatikan kebutuhan dan kemampuan anak. Orang tua dan guru harus mampu menemukan nilai positif dan kompetensi unik yang dimiliki oleh anak.
Bagaimana Caranya? (Virgiani, 2014)
1. Dukung anak dalam menyiapkan keperluannya, berupa pengawasan dan menyediakan media-media pembelajaran
2. Semangati anak bahwa ia mampu menyelesaikan tugas-tugasnya
3. Komunikatif dengan anak tentang hal-hal apa saja yang terjadi dalam kesehariannya
4. Tetap membuat anak produktif dalam melakukan tugas-tugas di rumah
5. Berikan motivasi untuk anak agar terus lebih baik
6. Melakukan penerimaan dan menghargai atas setiap usaha yang telah anak lakukan. jangan hanya memberikan kritik atau kata-kata seharusnya.. seharusnya... lebih baik lagi kalau... atau semacamnya..
7. Terus gali minat anak
8. Jangan mempercayakan pendidikan anak pada sekolah sepenuhnya. Aktif cari tahu bagaimana kondisi sekolah anak, teman-teman dlsb
9. Bersahabat dengan teman-teman anak. Jangan hanya menjadi orang tua yang protektif/ malah overprotektif
10. Tetap pantau kegiatan-kegiatan anak, lindungi anak dari kejahatan seksual, pornografi, pornoaksi, atau semacamnya.
11. Buat kegiatan rutin keluarga yang menggembirakan, dengan ide/usul/masukan-masukan dari anak
12. Ajak anak berpendapat, bermusyawarah tentang suatu hal dll
Dengan demikian, kita berharap di masa mendatang anak akan memiliki kemampuan intrapersonal dan interpersonal dalam menjalani kehidupannya. Ini adalah modal dasar yang penting bagi anak, terutama ketika anak memasuki masa remaja dan setelahnya.
Daftar Pustaka
Virgiani, I. (2014). Pendidikan Karakter Sesuai Tahap Perkembangan Anak. 5 Mei 2015.
https://www.facebook.com/notes/innu-virgiani/pendidikan-karakter-sesuai-tahap-perkembangan-anak/10152831996060675
Clickhar. (2012). Psikologi Kognitif dan Pendidikan Taklif. 5 Mei 2015. http://sekolahhebatku.blogspot.com/2012/07/psikologi-kognitif-dan-pendidikan-taklif.html?m=1
Faridah, S. (2006). Metode Pendidikan Moral pada Anak Prasekolah menurut Mohammad Fauzil Adhim. Skripsi. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo.
http://library.walisongo.ac.id/digilib/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jtptiain-gdl-s1-2006-sitifarida-993
Divisi Program IPC ✏
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Islamic Parenting Community
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
fan page: https://m.facebook.com/isparentingcommunity
Instagram: @islamicparenting
twitter: @isparentingcom
blog: isparenting.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar