Senin, 26 Oktober 2015

Resume Bincang Seru IPC - Sibling Rivalry

RESUME BINCANG SERU (BIRU)

Islamic Parenting Community

�� SIBLING RIVALRY ��

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

��Narasumber : Fridha Zoelqaidawati, S.Psi., (Psikolog)
�� IPC 5
�� PJ Management : Riesya & Fithri (Div Program IPC)
��Admin : Dwi Mustika Handayani
��Host : Tika @Iburaynar
��Co-Host : Rahma Nuraini
��MC IPC #1 : Embang Maryana
��MC IPC #2 : Noni Supriyanti B
��MC IPC #3 : Ade Puspita K
��MC IPC #4 : Rosa Kumala
��MC IPC #6 : Ariprasta
��Tanggal Diskusi : Jumat, 21 Agustus 2015
⌚ Waktu Diskusi : 15.30-17.00 WIB

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

�� Profil Narasumber

�� Fridha Zoelqaidawati, S.Psi., (Psikolog) merupakan ibu dari Muti (19 tahun), Nida (16 tahun), dan Wafa (12 tahun), serta istri dari Benny Bandanadjaja. 
Sebagai anak dari 7 bersaudara, ia sejak kecil senang sekali mengamati kehidupan keluarga, menyukai interaksi, dan berbagai kesempatan yang memungkinkannya untuk belajar dan mendapatkan banyak hikmah. Kemudian ia menjalani pendidikan sebagai Psikolog di UNPAD. 

��Sejak Mahasiswa, ia telah aktif menjalani kegiatan sosial yang pada umumnya membantu perkembangan anak dan remaja, dengan mengobservasi dan menyusun program pengembangan anak-anak pada keluarga-keluarga muda serta menyelenggarakan berbagai pelatihan kepemimpinan secara informal di sekolah lanjutan. Mengawali profesinya sebagai Psikolog di bidang pendidikan dengan menjadi Psikolog Sekolah mulai dari tingkatan Play Group hingga Sekolah Lanjutan Atas di beberapa sekolah Islam, serta menjadi konselor bagi mahasiswa di ITB.  
Selama 10 tahun sebagai Psikolog Sekolah, memberinya juga kesempatan untuk mendalami bidang Special Needs dengan mengikuti berbagai kuliah, seminar, dan workshop terkait hal tersebut. Selama menjadi Psikolog Sekolah, ia aktif menjadi nara sumber terkait dengan perkembangan dan pendidikan anak-remaja serta permasalahan keluarga. 
Kini lebih dari 10 tahun menekuni bidang Psikologi Industri dan Organisasi sebagai Consultant Associate pada berbagai kegiatan Assessment Perusahaan, kegiatan Pelatihan dan Pengembangan Diri, dan pemberian Konseling dan feedback bagi karyawan. Hingga kini, ia tetap melayani Konseling Keluarga dan Pernikahan pada kalangan terbatas

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

��SIBLING RIVALRY��
oleh Fridha Zoelqaidawati, S.Psi., (Psikolog)

Apa yang terlintas dalam pikiran ibu saat mendengar kata “sibling rivalry”?

��Jujur, di setiap fase kehidupan saya pribadi, kata tersebut ternyata dapat berubah maknanya sejalan dengan pemahaman dan penghayatan yang berkembang.

��Saat saya masih remaja, saya memaknakan itu sebagai “pertarungan ketat antara saudara kandung”…sangat sulit dan berat terasa….karena selain dengan keenam saudara kandung saya, saya pun merasa masih perlu bersaing dengan sekian banyak teman sekolah saya untuk bisa berhasil menjadi juara kelas, minimal berprestasi di bidang tertentu.

��Saat saya kuliah di jurusan Psikologi, saya mempelajari itu sebagai fase kehidupan berharga bagi seorang anak untuk bersaing secara sehat dalam keluarganya untuk mendapatkan perhatian dari keluarganya. Terkadang saya juga masih memiliki pemahaman parsial ….bahwa sibling rivalry ini seringkali menjadi sumber kenakalan remaja, bila tidak berhasil dilalui dengan sukses bagi seorang anak. Padahal untuk menjadi nakal, banyak sekali faktor penyebabnya, bahkan… sibling rivalry ini tidak selalu berlangsung selamanya, kan..?

��Dan saat saya menjadi ibu, saya justru berbahagia karena menyadari bahwa sibling rivalry di antara anak-anak bersifat alamiah, suatu wujud kedekatan emosi, saling memiliki dan saling mencintai satu sama lain. Hanya saja terkadang campur tangan orangtua yang tidak tepat, justru malah mempertajam perbedaan dan memperuncing persaingan.

��Saudara kandung yang hidup bersama dalam sebuah keluarga yang normal, tentu satu sama lain saling terikat dan mencintai, namun masih akan tetap merasa bahwa kecerdasan, kecantikan, ketrampilan, keluwesan bergaul, maupun kecakapan satu sama lain tampak berbeda. Perhatian orangtua mungkin sebenarnya sama bagi semua anak, namun seringkali ibu maupun ayah tidak menyadari bahwa mereka lebih sering membicarakan salah satu anak yang dianggap paling menonjol dan “berprestasi”. Jika kondisi tersebut sering terjadi, persaingan akan bergerak ke arah “perlawanan” atau sikap “protes” dari anak lain yang merasa diabaikan.

��Yang perlu dipahami betul oleh orangtua, sibling rivalry ini tidak bisa terelakkan, karena di luar keluarga pun pada nyatanya anak anak kita harus dapat bersaing secara sehat, dan berpikir positif dalam memaknai persaingan. Dalam keluarga, anak akan belajar tentang perbedaan, belajar menghadapi pertengkaran, dan menyelesaikan permasalahan saat menjalani relasi dengan saudara-saudaranya. Sebagai orangtua, kita hanya perlu mendidik dan mengajarkan anak-anak kita bagaimana menyelesaikan permasalahan dan memenangkan persaingan pada bidang yang memang dikuasai anak. Sekali lagi, orangtua perlu juga mengenali kekuatan dan keunikan dari masing-masing anak, sehingga mampu memfasilitasi kemungkinan semua anak untuk “menang” pada situasi yang berbeda satu sama lain.

�� Kita dapat memanfaatkan sibling rivalry ini sebagai sarana pendidikan bagi anak untuk lebih mengenali keunikan masing-masing saudara dalam keluarga.  Misalnya, si sulung sangat mandiri dan selalu berprestasi di sekolah, si tengah sangat perasa namun juga peka terhadap kebutuhan orang lain serta ringan tangan membantu, si bungsu sangat ekspresif (kadang kita me-label dengan sebutan manja), asertif dan mudah sekali beradaptasi dalam situasi sosial yang baru. Anak perlu terus belajar berkompetisi dengan sehat, ibu dapat menyatakan sulung berprestasi karena usahanya untuk terus bekerja keras secara mandiri. Di lain waktu, ibu perlu juga menyampaikan apresiasi atas keberhasilan si tengah dalam membantu permasalahan temannya kemudian mendorongnya untuk menuliskannya dalam bentuk cerita. 

�� Prinsipnya adalah Sibling Rivalry, hanyalah satu aspek dari dari sebuah Sibling Relationship. Jadi akan lebih mudah bagi kita membantu anak-anak kita tumbuh dan berkembang secara sehat dan positif, dengan meningkatkan kualitas Sibling Relationship.

Demikian ibu-ibu... senang sekali saya kembali membuka ingatan dan penghayatan saya tentang sibling rivalry ini. Walaupun terus terang, awalnya sulit sekali saya menuangkannya di sini, entah mulai darimana... kembali baca “Smart Parenting”
dari Sylvia Rim, Socialization & “Personality Development” dari Schaffer, serta selintas saya coba browsing tentang sibling ini. Semoga bermanfaat, renyah terbaca, dan hangat terasa di hati, yaaa… ��

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

❔Sesi Tanya Jawab

1⃣ Marina_kebumen_IPC 5
Assalamualaikum Bu Fridha.. Alhamdulillah senang sekali dan terimakasih sudah menjadi narasumner di BIRU kali ini..��
Ada beberapa yang ingin saya tanyakan terkait dengan tema:
1.Bagaimana menyikapi si kakak yang tadinya sudah mandiri tp menjadi manja setelah punya adik,hanya untuk mencari perhatian?
2. Bagaimana caranya kita menjadikan anak-anak dlm keadaan yang setara, misalnya jangan sampai salah satu menonjol sedangkan yang lain tertinggal, ada yg rajin tp ada yg malas.
Jazakillah khairan Bu Fridha

JAWABAN :

Wa'alaykumsalaam B Marina dari Kebumen.. Alhamdulillah.
1. Kakak usia brp tahun bu?  Jika balita,  namun beda 2 tahun berarti sebenarnya kakak sudah sedikit paham ya bu.  Kita fokus pada kemandirian yang sudah ditunjukkan kakak selama ini.  Kuncinya adalah komunikasi,  anak belum sepenuhnya faham cara menyampaikan perasaan cemburu ya,  dan cara mengungkapkan keinginannya untuk tetap diperhatikan.  Jadi kita perlu menanggapinya dengan komunikasi yang jelas.
Sampaikan bahwa selama ini ibu bangga karena kakak sudah bisa ini itu (sebutkan perilaku mandirinya apa saja).
Lalu tekankan rasa sayang ibu dan bapak sama pada kakak dan adik,  tapi kakak dan adik jelas berbeda.  Sampaikan perbedaannya bahwa kakak sekarang sudah sekian tahun dan bisa (sebutkan)  dan sekarang sedang belajar (sebutkan perilaku/ketrampilan yg sedang dipelajari).  Nanti ibu dan bapak juga akan tetap bantu kakak untuk belajar yaa

Sampaikan pula bahwa dulu kakak juga sama dengan adik,  yang belum bisa mandiri seperti kakak.  Jadi skrg ibu dan bapak sedang mengajari hal tersebut. ☺

2. Maksudnya memperlakukan anak dengan adil ya bu?  Karena kita tetap tidak dapat memperlakukan secara setara,  krn adanya perbedaan umur,  dan karakter anak masing2.  
Adil artinya kita menempatkan sesuatu pada tempatnya,  jadi untuk kakak usia remaja cara kita menyampaikan teguran akan berbeda saat kita menghadapi anak usia sekolah.
Adil dengan cara memberikan peraturan yang sama,  disiplin yang sama,  namun dengan cara dan pendekatan yang berbeda bu.  Disesuaikan dengan usia dan karakter anak. 
Maaf untuk detailnya perlu pembahasan khusus.

Sedangkan dalam konteks siblings,  seperti disampaikan di materi ibu perlu kenali keunikan anak dan motivasi anak untuk berhasil di bidangnya dengan disiplin dan rajin berusaha ✅

2⃣ Tyas_IPC 2
Anak saya 2, laki-laki (6,5y) dan perempuan (2,5y).
Si adek selalu ngikut apa yg dimainin Abangnya. Makanya semua mainan selalu saya belikan 2. Hampir tidak ada mainan cewek (karena adeknya maunya samaan dg Abangnya).
Tapi masih aja berebut. Kalo bukan saya yg melerai, selalu si Abang yg disalahkan. Atau dia yg disuruh mengalah. Kadang saya kasihan kalo pas si Abang merasa dirinya dibedakan.
Gimana ya cara mengisi "kekosongan jiwa" pada si Abang?

JAWABAN :

B Tyas...
Kita perlu mengajari anak tentang perbedaan... Bahwa di dunia ini memang Allah ciptakan banyak perbedaan supaya saling mengenla dan belajar. 

Ini hal yang mendasar bagi anak dan penting sekali diajarkan dalam keluarga.  Bahwa kakak dan adik berbeda .... Nanti kakak menjadi bapak dan adik menjadi ibu.   Jadi ada permainan yang sangat penting buat kakak (ketangkasan)  dan adik boleh aja ngikutin.  Tapi ada juga permainan yang asyik banget lho buat adik (anjangan)  tapi buat kakak biasa aja.  Akan lebih seru kalo sekali kali beda gak harus samaan.
Nah,  karena kakak merupakan model bagi adik,  mungkin adik ingin selalu sama dengan kakak.  Ibu hanya perlu "memperluas wawasan adik" dengan memberinya kesempatan untuk tuk mengenali aktifitas yang baru dan berbeda,  perkaya pengalaman adik dengan sosialisasi dengan teman sebaya dan jg yang sejenis.
Dengan demikian hal tersebut tidak mengungkung kakak dalam situasi selalu harus mengalah, padahal ia tidak bersalah.  Kakak dan adik perlu dikembangkan juga individualitas mereka agar satu sama lain dapat lebih mandiri dan saling menguatkan.   Jika kakak diperlakukan adil (tdk disalahkan padahal adik yang salah)  ia akan lebih merasa dihargai.  Dan perasaan ini juga menjadi dasar untuk ia bisa menghargai orang lain termasuk adiknya ✅

3⃣ Maya_Balikpapan_IPC2
Assalamu’alaykum wr wb. Bu Fridha, bagaimna cara mengatasi 2 permintaan yg bersamaan antara kakak dan adik, yg menurut saya, permintaan kakak adalah permintaan sdgkan permintaan adik adalah kebutuhan. Contoh ketika menjelng jm tidur.  Kakak cenderung minta dikelonin, sdgkan di saat yg bersamaan adik butuh ASI. Saya khawatir jika selalu mendahulukan kakak, kakak akan menjadi pribadi yg egois selalu menang. Jika adik yg didahulukan khawatir kakak merasa disisihkan. Mengingat jarak usia yg berdekatan.
������

JAWABAN :

Wa'alaykumsalam B Maya. 
Ini saat yang bagus untuk mengajarkan budaya pembagian waktu bagi anak.  Kakak dan adik secara sederhana kita ajaran untuk saling berbagi waktu.
Teknisnya diawali dengan mendahulukan kebutuhan adik,  selanjutnya permintaan kakak.  Selanjutnya dibahas,  Bahwa ibu perlu membagi waktu,  karena ibu ingin memenuhi permintaan dan kebutuhan kakak adik.  Jadi ajak anak anak untuk membagi waktu ke depannya.  Tulis dan gambar kesepakatan tersebut di dinding supaya mereka juga melihat dan mengingatnya ya.  Saya yakin Bu Maya bisa mengaturnya bersama anak-anak.  Semoga berhasil ✅

4⃣ Tika_Padang_IPC5
Assalamu'alaykum, Ibu Fridha yang di rahmati Allah insyaa Allah Aamiin...�� Senang sekali pada kesempatan kali ini bs bertanya sama Ibu Fridha..
Saya ingin bertanya,
1. Bagaimana membangun Sibling Rivalry pada anak tunggal ? anak saya cenderung mudah mengalah,  keinginan berkompetisi kurang..
(anak saya laki-laki umur 6 tahun)
2. Aspek lain apakah yang bisa "menggantikan" Sibling Relationship, agar kualitas & karakter anak tunggal sama atau setidaknya mendekati anak yang mempunyai saudara (kakak dan adik) ?

JAWABAN :

Wa'alaykumsalam bu Tika yang di rahmati Allah.. Aamiin... Alhamdulillah.... Pertanyaan menarik karena membahas sibling rivalry pada anak tunggal

��Pertama hal yang kita semua butuhkan untuk mengembangkan diri adalah kesempatan.  Prinsip ini yang perlu diingat ya.  Jadi sibling rivalry jelas harus dalam kondisi persaudaraan dimana ada ikatan emosional disana.  Persaingan padahal saling mencintai... Nah kalo memungkinkan buka kesempatan kebersamaan ini dalam konteks keluarga besar secara rutin
Jika tdk memungkinkan... Rivalry tdk semata mata hanya ada dalam sibling.  Bisa juga ada dalam lingkungan akrab lain dalam kehidupan anak, misalnya dalam kehidupan persahabatan di tempat tinggal,  sekolah,  tempat kursus dan komunitas lainnya

�� Kedua,  kita ambil esensinya bu,  persaingan mengajarkan kita untuk menang,  berarti di situ selalu ada target dan tantangan yang dituju.  Jadi,  ibu bisa tetapkan bersama anak target apa yang ingin diraihnya.  Atau ibu bisa "menggugah" anak untuk mencapai keberhasilan tertentu.  Jadi kenalkan anak pada berbagai situasi baru,  ibu perlu juga rajin cari info tentang kesempatan anak untuk mengikuti event tertentu dimana anak berpotensi untuk "menang".
Untuk pertanyaan kedua,  saya harap dapat terjawab di jawaban pertama td ya bu.  Semoga berhasil dan terus semangat ya bu✅

5⃣Polin_bogor_ipc#2
Sore ibu..gimana ya handle terutama anak usia 7,5t yg insya Allah dari adeknya dlm perut udah di explain, di kenalkan, di dekatin sampe sekarang adek sdh 3t masih terlihat irinya. Padahal sudah di jelaskan kalo kaka itu udah "cantik" sedang adek "imut".. makasih bu..

JAWABAN:

Perlu diperhatikan bu, bentuk irinya seperti apa?  Apakah iri karena masalah fisik, perhatian, ataukah "kesepian? Lalu ibu boleh perhatikan juga biasanya iri tersebut muncul dalam situasi/ moment seperti apa, frekuensinya sesering apa?

Bila frekuensinya sesekali tentu masih wajar, jika sering muncul perlu diperhatikan konteks situasinya untuk memudahkan kita memahami perasaannya. 

Jika iri karena masalah fisik, memang tidak bisa dihindari karenanya nyatanya bayi selalu lebih lucu bukan? Tapi, berita baiknya…ini bisa jadi momen yang bagus bagi ibu untuk membantu anak mengembangkan rasa percaya dirinya dengan menumbuhkan konsep dirinya.  Jadi ibu perlu ajak anak untuk mencari kemampuan  (bukan kelebihan) fisik yang dimiliki kakak, misalnya kakak sudah bisa mahir berlari, naik sepeda, menggambar dsb. jadi hindari menunjukkan kelebihan masing-masing saja, karena itu bersifat sementara.  Jadi lebih baik fokus pada kemampuan dimana anak perlu bekerja keras untuk mencapai hal tersebut.

Jika iri karena masalah perhatian, ibu bisa memperhatikan kebutuhan masing-masing anak sesuai usianya, usia balita, lebih banyak membutuhkan perhatian org dewasa, sedangkan usia anak (7,5 th) anak perlu belajar bersosialisasi dengan sekolah dan teman sebaya.  Nah perlu diperhatikan juga, apakah kakak memilki kesulitan untuk berteman baik dengan anak seusianya di lingkungan rumah, atau kesulitan saat bersosialisasi di sekolah ataukah sedang beradaptasi dengan tugas sekolah.
Demikian bu, semoga bisa membantu

6⃣Mutmainnah_Banjarmasin_IPC2
Kalo kita sbg orangtua mulai belajar utk bisa membangun sibling relationship,bagaimana memberi pemahaman kpd lingkungan sekitar termasuk nenek/kakek & tante/om si kecil utk tidak membanding2kan dia dgn saudara/sepupunya yg lain?padahal kita tau semua anak itu unik dan punya keunggulan masing2,tp ttp saja diberikan perbandingan trhadap apa yg dia "kurang" di sisi lainnya.

JAWABAN:

Ibu, itu memang kesulitan terbesar orangtua saat berada dalam keluarga besar.  Kita tidak mungkin memberikan parenting khusus untuk semua anggota keluarga besar yang kebetulan memiliki pemahaman dan pengalaman yang beragam dan berbeda dengan kita hehehe...
Secara praktis, kita bisa langsung menanggapi dengan santai saat mereka membandingkan anak-anak kita.  Jika memang sepupunya lebih hebat dalam kemampuan tertentu, kita bisa lebih dahulu mengapresiasi kemampuan tersebut dan bisa bilang bahwa anak kita memang sedang belajar hal tersebut (jika minatnya sama) atau juga menyampaikan bahwa anak kita punya minat yang berbeda (sebutkan kemampuan yang dikuasainya).
Hal praktis di atas sekedar mengingatkan secara tidak langsung pada pihak lain bahwa setiap anak berbeda, namun kita tetap mengapresiasi "kelebihan/kemampuan" saudara/ sepupu anak kita. Hanya saja, ini baru sebatas "mengontrol' lingkungan keluarga besar, sedangkan di luar sana, mungkin anak-anak kita akan menemukan persaingan yang lebih luas maupun dibanding-bandingkan dalam kelompok yang lebih luas pula. 
Karenanya hal terpenting adalah menanamkan konsep diri yang positif pada anak.  Bahwa setiap anak unik, punya kemampuan masing-masing, pada bidang berbeda,  dan hal tersebut perlu dipahami oleh anak. Selanjutnya anak perlu dibantu untuk mengeksplorasi apa yang bisa menjadi kekuatan mereka dan mungkin belum kelihatan saat ini. Sekali lagi, hindari "berbangga" atas kondisi fisik, tapi beri apresiasi atas segala "kemampuan" fisik yang diperoleh anak melalui proses belajar dan bekerja keras.  Misalnya dari hal kecil, bisa naik sepeda, memanjat pohon, menggambar, menulis, atau menyelesaikan tugas2 tertentu dengan cepat dsb.

Semoga dengan ini ibu dan anak-anak justru dapat menemukan konsep diri yang positif sekaligus menghargai kemampuan/ kelebihan dari anak lain ya.

7⃣ Dessy - ciputat-ipc#2
Keponakan saya juga ada yg spt itu,, dia tidak mau orang yg deket dengan dirinya .. Kaya mama,, papa,, kakek & neneknya nge-deketin orang lain trmasuk adik sepupunya sendiri .. Trkadang kalo slh 1 di antara mreka ngedeketin org lain slain diriny,, dia bs ngamuk" smp jedotin kpala ke tembok .. Nah cara mngatasi sikap anak itu bgaimana .. ??? & cara memberi pengarahan'a bgaimana kl prbuatan'a itu slh .. ??? Krn hampir stiap keluarga itu menganggap itu hal wajar yg di lakukan anak kecil,, & sll mnuruti apa kmauan anak itu meskipun itu slh ..

JAWABAN:

Betul sekali bu, hal yang salah bila kita menuruti semua kemauan anak,  karena fungsi kita sebagai orangtua justru adalah membimbing anak untuk menampilkan perilaku yang sesuai dengan nilai islam dan sejalan dengan norma sosial.  Pemahaman ini yang perlu diingat betul oleh orangtua, terlebih lagi saat anak berada dalam usia keemasan (5 tahun pertama).  Tantrum (menjedotkan kepala dan sejenisnya) reaksi yang mungkin dikeluarkan anak, dan itu adalah salah satu reaksi emosi karena cemburu dan menyatakan sikapnya yang tidak menerima serta meminta perhatian dari orang dewasa.  Sedangkan masih ada reaksi emosi lain yang sehat dan bisa dipakai oleh anak untuk belajar mengungkapkannya secara asertif (terbuka dan tepat).  Hal ini juga berarti bahwa cemburu dan sikap tidak menerima adalah wajar, namun perilaku tantrum tidak sehat bagi anak dan lingkungannya. Jadi karena anak sedang dalam proses berkembang, orangtua perlu mengajarkan perilaku yang sehat pada anak. Hal ini perlu diajarkan untuk menghambat tumbuhnya ego yang terlalu besar pada anak, mau menang sendiri dan menganggap bahwa semua keinginannya harus dipenuhi. Untuk memahami lebih jauh soal respon emosi yang sehat, ibu dapat pula mengkaji tentang kesecerdasan emosi.

Adapun untuk mengatasi kasus respon cemburu yang tidak tepat tersebut, hal pertama adalah meninjau kembali apakah pola belajar orangtua sudah seimbang?  Pola asuh,  dimana anak mendapat kehangatan emosi yang wajar tidak berlebihan (tidak memanjakan) sekaligus mendapatkan kontrol dalam bentuk aturan dan disiplin yang jelas dan terarah.  Maaf, ada pembahasan lebih jauh dalam hal pola asuh ini, sedangkan dalam konteks sibling rivalry, prinsipnya adalah anak perlu dilatih untuk bisa "bersaing" dengan sehat, seperti dalam islam ada istilah fastabiqul khairat.

Hal kedua, ajari anak untuk dapat "bersaing" dengan sehat tersebut, mulai dengan mengenali kekuatan dirinya disertai dengan penanaman konsep diri yang positif.  Nah untuk bahasan ini sudah saya singgung di  jawaban sebelumnya ya. Semoga sukses ya bu

8⃣ Ning/Jakarta/Management IPC Assalamu'alaikum bu ��
Saya punya 2 jagoan usia 6, 5 dan 2 thn. Gmn cara yg tepat untuk memberi pengertian dan menghadapi si kecil ketika saya harus sedikit fokus utk masnya, misal wktnya belajar atau spt saat ini sdg sakit. Ketika cemburu adiknya sering memukul/melempar mainan ke masnya. Sudah saya cb beri pengertian atau beri buku dan alat tulis agar sama tp selalu ingin yg dipegang masnya. Dan berakhir dengan teriakan karena berebutan barang atau bundanya �� terima kasih sebelumnya bu ��

JAWABAN:

Wa'alaykumsalam bu. Memang menghadapi anak usia 2-4 tahun membutuhkan waktu dan usaha "ekstra" karena biasanya dalam rentang waktu tersebut pada umumnya anak "membangkang" atau sulit untuk diminta mengikuti aturan.  Tentu saja, mungkin juga ada perbedaan tergantung karakter anak, situasi di rumah dan dukungan keluarga yang terlibat  ya bu��

Ibu sudah lakukan usaha yang baik dengan memberikan pengertian dan mencoba memberikan barang yang sama.  Mungkin yang perlu ibu tambahkan adalah adanya kegiatan yang lebih menyenangkan dibandingkan sekedar melihat ibunya mengajari kakak, atau sekedar bermain seperti biasa.  Karena kebutuhan belajar dan aktifitas usia 6,5 dan 2 thn berbeda, sebaiknya ibu perhatikan area bagi keduanya. Kakak perlu "space" dan ketenangan untuk belajar. sebalikya adik perlu teritorial dan permainan yang jelas dan lebih menyenangkan dibandingkan terlibat dalam proses belajar kakak.  Akan lebih mudah bagi ibu untuk memberi perhatian pada keduanya dalam waktu yang bersamaan bila keduanya mendapatkan kebutuhan mereka masing-masing. 

Nah, untuk keberhasilannya, ibu dapat mencari ide dari media online, atau website yang membahas tentang homeschooling.  Maaf ya bu, untuk detailnya ini perlu pembahasan khusus. Namun prinsipnya adalah ibu perlu memberikan aktifitas yang berbeda dalam waktu yang sama bagi kedua jagoan ibu yang aktif ini. Tetap semangat bu

9⃣Tika_Tangerang_Management IPC
Luar biasa materinya makasih Ibu Fridha, ini pelajaran juga bagi orang tua untuk membagi cinta sama besar terhadap anak anaknya dan menanggapi sibling rivalry dengan positif ��.
Pertanyaan saya, dengan karakter anak yang berbeda, bagaimana kalau dari pihak orangtua sendiri memiliki kecenderungan lebih sayang terhadap salah satu anak dibandingkan yang lain, dan itu secara tidak sadar dirasakan oleh anak yang lainnya, berupa sikap yang dirasa kurang adil ? Sayangnya dalam upaya si anak mencari perhatian orangtuanya, ia justru tidak mendapatkan perhatian yang dicari karena mungkin orang tua nya bosan / kesal dalam menghadapi tingkahnya. Bagaimana menghadapi kondisi seperti ini dan bagaimana dampaknya terhadap anak tersebut ?

JAWABAN:

Alhamdulillah bu,  ilmu tentang pengasuhan memang rasanya semakin banyak kalo terus kita gali.  Sebagai orangtua tentunya ibu juga seringkali mendapatkan banyak pelajaran yang didapatkan dari anak-anak kan ya? 

Soal kecenderungan bisa saja bu,  karena ini kedekatan kita dengan anak banyak dipengaruhi oleh emosi,  karakter dan juga fase perkembangan anak.  Dalam satu masa bisa saja sulung begitu manis,  penuh pengertian pada adik, membantu kita dan menghargai seluruh keluarga.. Tapi di masa tertentu egocentris sulung begitu menonjol.  Begitu juga dengan tengah dan bungsu..... Karena karakter berbeda, "sikap manis" mereka akan berbeda coraknya, demikian pula "sikap menjengkelkan" yang mereka tampilkan pada masa tersebut.
Secara teoritis, masa "menyebalkan"  pada usia balita tidak terlalu berasa karena secara fisik dan emosional anak masih "lucu" dan bisa menurut pada orangtua.  Nah begitu masuk usia pubertas, atau masa peralihan  dari anak-anak menuju remaja, mulai muncul "masa ketidaknyamanan" bagi anak dan orangtua. Terlebih lagi ada kecenderungan anak serasa "bosan" dan merasa bisa mandiri dan mungkin sudah mulai tidak "semanis" dulu. Pada saat yang bersamaan, orangtua pun mungkin sedang menjalani fase-fase kehidupan yang berbeda dengan tingkat kemapanan dan kesibukan yang berbeda, dan ini juga dapat mempengaruhi iklim kebersamaan dengan pasangan, juga bersama anak-anak.

Hal-hal tersebut perlu ibu pahami dan hayati sebagai bagian dari "live event" setiap orang, yang juga selama menjalani "live event" masing-masing...orangtua dan anak terus saling berinteraksi satu sama lain. 

Karenanya, ibu tidak perlu khawatir bila suatu saat ibu condong pada salah satu anak, yang paling penting ibu terus mengembangkan kepekaan dalam menghayati perubahan ibu dan pasangan sebagai orangtua, begitu juga perubahan pada anak-anak. Karakter kita cenderung menetap, namun masih bisa kita kembangkan jadi lebih baik.  Begitu pula anak-anak, bila ibu menganggap salah satu anak ibu memiliki karakter yang terbaik dibandingkan yang lain, ibu perlu mencari hal-hal baik apa yang dimiliki oleh karakter anak yang lainnnya.  Belajar dari sistem fisiologi dalam tubuh kita bu, ada sistem homeostatis, bahwa segala sesuatu mencari keseimbangan, saat kita sedih, kita akan menangis kemudian merasa tenang setelahnya.  Kita pun perlu demikian, saat kita menghadapi anak-anak, ketika kita bangga pada anak kedua, cari juga apa yang membanggakan kita dari anak pertama, dst. dengan demikian penghayatan dan pemikiran kita relatif terus berimbang pada semua anak

Masalah penghayatan ini yang perlu kita refresh secara rutin, dengan begitu kita juga dapat lebih menghayati kebutuhan anak masing-masingnya, dan  tentunya ibu akan lebih mudah memahami apa yang terjadi pada anak bila kita sebagai orangtua memberikan perhatian secara berimbang (bukan sama ya bu, karena emosi sifatnya relatif).  Semoga penjelasan saya ini sejalan dengan pertanyaan yang ibu maksudkan yaa...semoa dapat dihayati dengan menyenangkan dan membantu ibu tetap menjadi ibu yang hebat bagi anak-anak ya

1⃣0⃣ Karlina_ipc3
Sebenarny sampai usia berapakah sibling rivalry itu wajar terjadi?
Klw sampai usia dewasa masih jg terbawa, unsur2 apa yg harus diperbaiki?

JAWABAN:

Dalam psikologi, konsep sibling rivalry ini sebenarnya tidak selalu terjadi sepanjang kehidupan anak-anak dalam keluarga bu.  Seperti yang telah dibahas di materi, bahwa ada kompetisi tertentu padahal saling mencintai, dan dalam definisi psikologi, pada anak anak biasanya persaingan ditujukan untuk mendapatkan perhatian dari orangtua.  Karenanya, semakin matang perkembangan emosi anak, maka saat dewasa rivalry ini bisa saja jauh berkurang bahkan hampir tidak ada.  Terlebih lagi bila orangtua berhasil mengarahkan anak-anak untuk membangun sibling bonding....ikatan yang kuat dalam persaudaraan dalam artian yang positif.  karena sibling relationship yang sehat meningkatkan kemampuan anak untuk membangun hubungan yang positif secara timbal balik.  Dimana anak-anak dihargai dengan karakter dan kekuatan mereka masing-masing, diperlakukan secara adil sehingga membangun konsep diri yang positif dan dapat menghargai perbedaan.

Bisa jadi bu, ada yang terbawa hingga dewasa, tapi jika sudah dewasa sebenarnya konteks yang lebih tepat adalah karakter "rivalry" di dunia sosial bu.  Ada ketidakmatangan personality, dimana seorang individu sulit menerima pandangan yang berbeda dengan dirinya, merasa tidak aman bila org yang memiliki pandangan yang berbeda tersebut diakui oleh lingkungan sosial, karenanya ia terus berkompetisi dengan menunjukkan kekuatannya, dan menyampaikan keburukan 'lawannya'.  Yang ingin saya tunjukan di sini, bila sibling rivalry ini terus terjadi hingga dewasa, silahkan ibu amati bagaimana kehidupan sosial dari individu tersebut, apakah ia menunjukkan karakter yang sama? menganggap bahwa ia perlu terus berkompetisi untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan?

Wallahu 'alam bu, pada akhirnya di sini banyak sekali teori tentang sibling rivalry dari berbagai aliran psikologi, namun secara sederhana itu saja yang bisa saya sampaikan ya. Jika permasalahannya serius, sebaiknya ibu berkonsultasi secara langsung dengan psikolog, karena untuk memastikan permasalahan seorang psikolog perlu mengetahui riwayat "keluhan" ibu secara komprehensif.

Semoga bermanfaat informasi singkat ini ya bu

1⃣1⃣Ari_depok_ipc6
Assalamualaikum ibu....saya punya 2 anak perempuan. So far anak pertama udah on the right track....salahkah kalau saya minta anak ke2 mencontoh kakaknya krn kakaknya adl contoh yg baik, sementara karakter keduanya kadang berlainan. Trimakasih atas jawabannya��☺

JAWABAN:

Prinsipnya sama bu, tidak ada karakter anak yang persis sama, artinya cara belajar anak dan cara menunjukkan dirinya pun akan berbeda pada setiap anak.
Oya, apa yang ibu maksud dengan "sudah on the track?" Maaf bu, saya khawatir pemaknaan kita tentang "on the track" ini tidak sama. Jadi saya lebih baik menyampaikan hal yang bersifat umum saja ya bu.

Setiap masa perkembangan anak sejak bayi - anak-anak - remaja - hingga dewasa akan memiliki resiko atau bahaya perkembangan sendiri.  Jadi bisa jadi dalam perkembangannya salah satu anak merasa jenuh dan tidak merasa dirinya "baik-baik" saja meskipun kita seolah-olah  melihatnya tidak ada masalah (on the track). Dan sebaliknya bisa jadi adiknya memang ingin menjadi seperti kakaknya yang dipandang baik, tapi punya karakter yang berbeda sehingga cara belajar dan menampilkan dirinya juga berbeda.  Jadi akan lebih mudah bagi kita dalam melakukan pendekatan apa yang lebih efektif untuk membantunya "on the track" dengan cara yang berbeda, hanya bila kita sebagai orangtua rela untuk terus menyelami karakter anak dan memahami sudut pandang anak saat ini.

Ini yang saya maksud dengan senada bu dengan jawaban untuk pertanyaan no 9 di atas ya bu...tentang penghayatan kita sebagai orangtua, karena sibling rivalry itu prinsipnya adalah persaingan yang sehat untuk menjadi lebih baik tanpa menyamaratakan karakter anak yang sudah unik dan berbeda satu sama lain.  dan persaingan tersebut terjadi dalam suasana persaudaraan yang saling mencintai.  Jelas, kita sebagai orangtua hanya membantu anak belajar, bagaimana ia bisa menjadi lebih baik dengan karakternya saat ini.  Sama seperti kita bu, yang perlu terus belajar untuk menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak kita

1⃣2⃣Ikha_IPC6
Assalamualaikum...
Anak kedua (4th) dan ketiga (2,5th)saya bisa dipastikan tiap hari ada sesi berebut sampai pukul pukulan dan diakhiri drama menangis.biasanya selalu dimulai dari adik yg memang sekarang hobinya menirukan apa saja yg dilakukan orang lain dan dia suka meminta apa yg sedang dipegang oranglain.memintanya dgn memaksa kalo tdk diberi dia bisa menggigit atau memukul...
Si kakak sebenarnya sdh sering mengalah...tapi kl selalu diposisikan mengalah terus saya kasihan..mainan sdh direbut masih dpt pukulan pula
Si adik skrg kndsinya speech delay kl diajak ngomong dinasehatin blm ngeh...
Sekarang justru si kakak malah belajar mukul jg ke adiknya kl adiknya merebut mainannya.
Kl mainan sdh dibelikan sama cuma si adik aja yg mmg senengnya semua yg dipegang kakaknya.
Ketika berebut dan si adik yg mulai maksa minta, biasanya adik sy gendong menjauh kakaknya dulu stlh tenang baru saya bilang ke adik,  sabar antri ya tunggu kakak selesai...
Apa yg seharusnya sy lakukan dan yg sdh sy lakukan itu sdh benar belum?
Sy khawatir krn kl bermain dgn teman dia jg begitu ga mau mengalah atau antri bgantian mainan.
Apakah memukul menggigit mencubit itu naluri anak ketika merasa terancam? Krn tdk ada dlm keluarga kami kebiasaan melakukan itu...bgm menghilangkannya?
Jazakillah khoiron katsiran utk bantuan jawabannya

JAWABAN:

Wa'alaykumsalam bu. Maaf bu, kalau liat dari kondisinya, dimana kakak usia 4 thn dan adik mengalami speech delay usia 2,5 thn, lalu adik yang tidak mau mengalah, kemudian berlanjut dengan pertikaian kakak adik karena kondisi tersebut, ini bukan kondisi sibling rivalry.

Kembali ke konteksnya bu, bahwa sibling rivalry terjadi karena persaingan untuk mendapatkan perhatian. Sedangkan situasi yang ibu sampaikan adalah pertahanan diri kakak, karena selalu direbut mainannya oleh adik, di pihak lain adik mengalami kondisi speech delay yang berarti mengalami kendala dalam berkomunikasi.  Ini jadi kondisi yang jelas berbeda bu, karena usia 4 th anak juga sedang baru mulai belajar berbagi, dan posisi ibu untuk mengajarkan adik untuk berbagi sudah tepat tapi masih kurang cukup.

Apakah adik sudah menjalani terapi untuk membantunya berkomunikasi bu? karena kemampuan anak untuk berbagi juga membutuhkan kemampuan untuk berkomunikasi timbal balik, adanya kendala komunikasi seringkali menimbulkan emosi tersendiri pada anak, kadang anak menjadi tidak sabaran, ingin menang terus, atau menjadi cengeng karena sulit menyampaikan hal yang diinginkannya.  Untuk mendapatkan pembahasan yang lebih terarah, saya sarankan untuk berkonsultasi pada terapis, menjalani therapy secara teratur, serta lebih tepat dibahas dalam konteks pola asuh.

Meski demikian sebagai penutup, saya kembali sampaikan beberapa point secara umum dari pembahasan kita ya. Pada akhirnya, sebagai orangtua kita perlu membimbing adan membantu anak bagaimana menumbuhkan ikatan sibling yang kuat dan bersifat positif. 

��1. Bersikap adil, perlu memperhatikan rentang usia anak, anak dengan usia perkembangan yang berbeda membutuhkan aktifitas yang berbeda pula. Orangtua perlu memahami perbedaan tersebut sehingga saat melakukan  aktifitas keluarga bersama, perlu membuat kegiatan yang bisa diikuti oleh semua usia dan memungkinkan semua anggota keluarga untuk menang.

��2. Tetap mengarahkan anak untuk menghargai pihak lain, dengan mengapresiasi kelebihan saudaranya, serta mencari kekuatan dari masing-masing anak.  untuk anak tunggal, bisa memperluasnya dalam keluarga besar maupun dalam suasana persahabatan.

��3. Konsisten dalam membangun konsep diri masing-masing anak.  Menghargai pandangan dari setiap anak, memuji usaha anak saat berusaha meningkatkan kemampuannya, menghargai kekuatan yang diperoleh anak melalui proses belajar dan bukan hanya sekedar memuji kondisi fisik yang dimilikinya (seperti cantik, atau hal lain yang bersifat bawaan)

��4. Mengajari dan membimbing anak untuk berempati pada pihak lain, dan tentunya dimulai dari kita sebagai orangtua untuk belajar memahami karakter mereka dan mencari pendekatan yang tepat pada masing-masing anak sesuai dengan usia dan karakternya.

��5.  Membangun komunikasi : mendengarkan pihak lain, menyampaikan keluhan secara terbuka dan mencari jalan keluar dari masalah yang ada.  jadi saat anak berkonflik, perhatikan bagaimana mereka berkomunikasi satu sama lain, beri kesempatan untuk menyelesaikan masalah diantara mereka. Selanjutnya bicarakan secara terbuka, dan orangtua hanya sebagai mediator.  Tapi cara ini memang perlu pembahasan lebih jauh ya, karena perlu memperhatikan usia anak juga

��6. Hal yang paling mendasar adalah mencari persamaan dan terima perbedaan.  Kita semua perlu menghayati bahwa semua anggota keluarga memiliki kesamaan, yaitu adanya keterikatan emosional, memiliki hubungan darah dan perlu saling mendukung. Adanya perbedaan karakter membawa konsekuensi bahwa setiap orang perlu belajar menyesuaikan diri dengan pihak lain sesuai karakter mereka.

Kita semua bersaudara, karena itulah kita semua berada disini untuk saling mendukung dan mendorong/ menyemangati untuk menjadi lebih baik.

Demikian ibu ibu semua, semoga kita terus semangat untuk terus belajar dan menjadi lebih baik yaa....

��〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
�� Islamic Parenting Community �� 〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰��

�� fan page: https://m.facebook.com/isparentingcommunity

�� Instagram: @islamicparenting

�� twitter: @isparentingcom

�� blog: isparenting.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar