Senin, 26 Oktober 2015

Resume Bincang Seru IPC - Agar Anak Mencintai Al-Quran

RESUME BINCANG SERU (BIRU)

Islamic Parenting Community

��Agar Anak Mencintai Al Qur'an��

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

��Narasumber : Juditha Elfaj, S. Far
�� IPC 8
�� PJ Management : Riesya Utami & Kamilah Fithri (Div Program IPC)
��Admin : Resa Rahmawati
��Host : Sittati Chasanah - Magelang
��Co-Host : Rahmi Misbah - Tangerang Selatan
��MC IPC #6 : Ririn Nuraini - Bandung
��MC IPC #7: Yukan Niko Agrianfanny - Bandung
��MC IPC #9: Puji Astuti - Tangerang
��MC IPC #10 : Elis Maidah Omar - Bandung
��Tanggal Diskusi : Senin, 21 September 2015
⌚ Waktu Diskusi : 09.00 – 10.30 wib

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

�� Profil Narasumber

Bismillah.

Nama saya Juditha Elfaj S.Far, istri dari Dendi Wardani dan ibu dari 2 putri yaitu Hania (4tahun) dan Wafa (2tahun). Saya saat ini tinggal lagi di Jakarta. Dulu sempat ikut suami yang bekerja di Singapura, tapi masih tetap PP ke Jakarta. Kondisi yang bolak-balik ini menjadi "anugrah" tersendiri untuk saya bisa full menemani belajar anak-anak (karena anak-anak tidak bisa rutin mengikuti pembelajaran di lembaga).

Al Qur'an adalah isu utama yang berusaha kami angkat dalam keluarga. Aktivitas belajar kami banyak mengambil setting di perjalanan dan rumah. Dengan izin Allah, Alhamdulillah Hania menyelesaikan hafalan juz 30 pada usia 3 tahun 9 bulan dan mengkhatamkan tilawah Al Qur'an yang pertama pada usia 4 tahun kurang seminggu.

Saya sangat menyukai dunia anak-anak. Tahun lalu sempat menyusun Ramadhan berupa buku dan chart yang bertajuk "Ramadan Kit for Kids" (Polimedia Publising, 2015). Sejak lulus SMA, saya mendirikan dan menjalankan sendiri taman belajar Al Huda di dekat rumah. Sampai akhirnya beberapa tahun kemudian Alhamdulillah adik kelas dan murid-murid generasi awal kami bisa bantu menjalankannya juga. Agaknya aktivitas dakwah di masayaarakat selalu bisa menjadi energi dalam membina anak-anak kita sendiri dan keluarga.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

��Agar Anak Mencintai Al Qur'an��

Oleh Juditha Elfaj, S.Far

Bismillahirrahmanirrahim.

Ba'da tahmid wa shalawat.

Memiliki buah hati merupakan anugerah yang istimewa dari Allah ta'ala. Ia adalah cahaya mata, penyejuk jiwa, dan penyempurna kebahagiaan keluarga. Terlebih lagi jika buah hati kita dapat menjadi ladang amal yang berpahala jariah; senantiasa mengalir meski usia kita telah usai. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak sholeh yang selalu mendoakan” (HR. Muslim no. 1631)

Al Qur'an adalah petunjuk dan cahaya. Ia adalah pintu beragam ilmu dan "software" terbaik yang apabila kita menginstalnya pada ananda, maka 2 dari 3 amal jariah tadi dapat insayaa Allah kita peroleh yaitu : ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholih yang selalu mendoakan. Betapa hati orangtua mukmin tidak mungkin tidak tergerak dengan investasi ukhrawi ini, sedangkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam juga pernah bersabda, "Siapa yang membaca al-qur'an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dia akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan jubah kemuliaan yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya (orang tua) bertanya, "Mengapa kami dipakaikan jubah ini?" dijawab, "Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur'an." (HR Abu Daud).

Mengapa harus pada usia dini?

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orangtuanya yang menjadikan ia Yahudi atau Nasrani atau Majusi.."

Ayah Bunda tersayang,

Al Qur'an yang suci yang diturunkan Allah Ta'ala selalu "compatible" pada setiap jiwa ananda yang masih suci diliputi fitrahNya. Mungkin ia belum memahami ayat demi ayat yang ia lantunkan, tapi jiwanya terjaga dengan kalamNya yang mulia itu. Mungkin mulutnya yang mungil belum sempurna melafazkannya, tapi yang keluar dari lisan kecilnya itu adalah sesuatu yang bernilai besar dari Allah yang Maha Besar.

Tujuan utama mengajarkan Al Qur'an pada anak usia dini bukan sekadar keterampilan membaca dan menghafal. Kita tidak sedang menumpukkan kitab di punggung keledai. Tetapi, kita sedang menanam kecintaan; kecintaan pada Allah, pada kalimatNya, dan pada agamaNya. Kita sedang menanam iman dalam hatinya, membentuk dzauq atau cita rasa Qur'ani pada jiwanya, membentuk pola pikir yang selalu merujuk pada Al Qur'an, serta membentuk pola kehidupan Qur'ani dalam kesehariannya hingga (semoga) terbawa sampai ia dewasa. Kemampuan membaca dan menghafal adalah bonus dari intensitas kita berinteraksi dengan Al Qur'an. Setiap anak memiliki keunikan tersendiri dalam menguasainya. Sekali lagi, kita sedang mencurahkan kasih sayang kita pada anak dan semakin bertambah tatkala kita menjalaninya dengan Al Qur'an. Betapa banyak kita temukan orang dewasa yang bisa membaca Al Qur'an tetapi malas membacanya, atau tidak rutin menyentuhnya, bahkan enggan berhukum dengannya akibat tidak adanya kecintaan pada kitabNya ini.

Karakteristik Usia Dini

Pada periode emas ini, anak berada pada tahap praoperasional. Ia memiliki kepekaan terhadap perkembangan bahasa, mulai menguasai simbol-simbol termasuk kata-kata, dsb. Maka tak heran orang mengistilahkan otak mereka bagai spons yang memiliki daya serap yang luar biasa. Menguasai ratusan kosakata baru, menghafal sayaair, dan juga pandai meniru aktivitas orang-orang di sekitarnya. Namun, nalar mereka belum logis sehingga mereka lebih mudah menerima sesuatu yang konkret. Modus belajarnya pun lebih mengena dengan aktivitas fisik dan sesuatu yang memberi mereka pengalaman nyata.


Bagaimana menanamkan cinta pada karakteristik ini?

1.    Memberikan keteladanan terbaik

Anak adalah peniru yang ulung, maka jadilah model bagi mereka bagaimana mengisi keseharian hari-hari kita dengan Al Qur'an.

2.    Memberikan pengalaman berinteraksi yang istimewa dengan Al Qur'an

Konon, bisa itu karena biasa dan cinta tumbuh karena sering berjumpa (ehem..). Maka, sediakan family quality time rutin bersama Al Qur'an. Jadikan waktu itu saat yang sangat dinantikan oleh si kecil. Buat senyaman dan semenarik mungkin bagi hatinya. Mungkin tidak melulu meminta si kecil membaca Al Qur'an. Bisa juga hanya sekedar mempersilakannya "menonton" ayah bundanya asayaik memperdengarkan Al Qur'an, bercerita tentang kisah-kisah dalam Al Qur'an, bermain dengan huruf hijaiyah, dll. Tak perlu lama. Si kecil masih memiliki rentang perhatian yang pendek kok. Sebentar tapi rutin dan berkelanjutan. Semakin membuatnya penasaran dan menanti-nanti kapan saat mengaji lagi akan lebih seru ;)

3.    Al Qur'an sebagai jalan memperkenalkan anak pada Penciptanya. Betapa banyak ayat-ayat Al Qur'an yang menggambarkan kebesaran Allah, tentang makhluk-makhluknya (tumbuhan, hewan, bulan, bintang, dll), tentang kasih sayangNya, tentang kekuasaanNya di alam raya, dll.

4.    Menjadikan Al Qur'an sebagai isu utama dalam keluarga. Sering diulang-ulang keutamaan Al Qur'an pada diskusi hangat keluarga, berusaha mendedukasikan ayat-ayat Al Qur'an dengan realitas yang ditemukan anak, memberikan apresiasi yang istimewa terhadap keberhasilan anak dengan Al Qur'an dibanding bidang lainnya, dll.

5.     Kasih sayang dan doa tulus dari orangtua yang senantiasa meliputi ananda tercinta. Sesuatu dari hati akan sampai hati insayaa Allah. Kekuatan kita hanya ada bersama Allah yang Maha Menguasai Ilmu dan Menggenggam seluruh jiwa makhlukNya.


Sekadar berbagi

Saya hanyalah seorang fakir ilmu yang lahir dari keluarga yang biasa saja dan latar pendidikan agama yang pada umumnya. Saya memohon pada Allah agar pengalaman saya dan buah hati dapat menjadi motivasi ayah bunda lainnya untuk semakin terpacu menghidupkan Al Qur'an dalam keluarga. Saya juga memohon pada Allah agar mengampuni kesalahan dan kekeliruan saya dalam membina keluarga ini di atas jalanNya.

Alhamdulillah, sulung saya telah selesai menyetor hafalan seluruh surah di juz 30 pada usia 3 tahun 9 bulan. Ananda Hania juga telah mengkhatamkan tilawah 30 juz pada usia 4 tahun (kurang seminggu). Hania mulai menyetorkan hafalannya secara rutin setelah bicaranya lancar, panjang, dan dimengerti, yaitu pada usia 2 tahun 6 bulan. Kegiatan menghafal ini semakin seru dengan sambil bercerita isi surahnya, mengunjungi kebun binatang dan menjumpai binatang yang disebuntukan pada hafalannya (gajah, kuda, unta, dsb), wisata alam (kami biasa temukan di perjalanan SG-Jkt) dan mengaitkan ciptaanNya yang kami temui  dengan ayat-ayat Allah (awan, matahari, laut, bumi, gunung, dsb). Hania mulai belajar membaca Al Qur'an dengan buku iqra (rosm utsmani) ketika sudah bisa diajak duduk manis selama 10-15 menit pada usia 3 tahun. Sebelumnya, belajar dengan permainan, membuat craft hijaiyah, dan cerita. Hania mulai membaca mushaf Al Qur'an usia 3 tahun 5 bulan. Dari sini kami mulai mengeksplor kisah para nabi dan teladan lainnya dari Al Qur'an.

Bukan sekadar hafalan dan bacaannya yang membuat hati kami sebagai orangtua sangat berbunga-bunga, tetapi ghiroh dan usahanya yang sering membuat kami yang dewasa justru merasa malu. Astaghfirullah..

Pernah ketika badannya demam hingga 39 derajat celcius, saya meliburkan jadwal mengaji Hania hari itu. Tengah malamnya, ia terbangun dan menangis sambil berkata "Mataku merem (maksudnya tidur) tapi belum ngaji. Qur'an aku mana, Mi? Aku mau ngaji.." Masayaa Allah, terharu sekali saya dibuatnya.

Hania memang kalau sedang manja, dia suka minta dibacakan beragam surah yang dia suka. Atau susah tidur jika belum "dingajiin". Salah satu momen termanis menemaninya belajar Al Qur'an adalah ketika malam sebelum tidur, dia mengecup pipi saya seraya berkata "Aku sayang ummi karena ummi suka ngajarin aku ngaji.." T_T

Saya rasa itu dulu yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat dan bisa lebih kita kembangkan lagi dalam diskusi. Afwan minkum wa barokallahu lanaa. Wallahu a'lam bishowab.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

❔Sesi Tanya Jawab

1⃣  Bismillaah
Mau tanya jadwal hafalan tolong djabarin seperti apa kegiatan harian dari bangun tidur sampe kembali tidur. Jazakumullaahukhoiir
Shofi_IPC9_skh

Jawaban : Bismillah
Bunda Shofi Aktivitas harian kami seperti pada umumnya saja.

Bangun tidur (setelah subuh) : menambah hafalan baru

Pagi - siang : mandi, makan, main, dsb.

Siang (setelah zuhur) : tilawah siang (biasanya minta ditambabkan cerita tentang ayat atau surah yang dia baca

Siang - maghrib : aktivitas harian seperti tidur siang, makan, mandi, dsb

Maghrib - menjelang tidur malam : tilawah, mengulang hafalan.

Adapun talaqqi (metode menghafal Hania) dilakukan pagi dan malam. Selebihnya, ketika menjelang tidur (siang maupun malam) sambil dibacakan surah. Atau sambil bermain yang tenang (misal lego-ing, corat-coretan, dsb) sambil diperdengarkan murottal.✅

2⃣Teh, saya mempunyai 2putri (7th & 3th). Bagaimana agar kedua putri saya ini mau menghafalkan Al-Qur'an sedangkan putri saya yang usia 7th berpedoman yang penting bisa mengaji sepertinya ngeri klo saya sarankan untuk menjadi khafidhoh karena saya pernah menyarankannya agar nantinya dia mau belajar Alqur'an di Pondok.
Nuzul_Semarang_IPC10

Jawaban : Bunda Nuzul

Proses menjaga Al Qur'an berlangsung sepanjang usia hidup kita. Yang terpenting bukan secepat apa anak kita dorong untuk menghafal, tapi bagaimana agar bacaan dan hafalannya semakin meneguhkan keimanan dan mengiringi setiap langlah hidupnya. Sahabat nabi Jundub bin Abdillah pernah berkomentar, "Kami belajar iman sebelum belajar Al Qur'an, kemudian belajar Al Qur'an sehingga dengannya bertambah iman kami."

Pada anak-anak sebelum masa mumayiz (akalnya bisa membedakan haq dan bathil), maka menanamkan kebiasaan dan kesukaan untuk beriteraksi dengan Al Qur'an menjadi sangat penting. Saya rasa, putra/i yang lebih dari satu di rumah justru bisa menjadi sinergi. Yang satu saling menyemangati yang lain, saling berlomba, saling mengingatkan.

Tak apa, Bun. Si sholihat 7tahun insayaa Allah lama2 bisa mengerti dengan sering diceritakan tentang keutaman membaca dan menghafal Al Qur'an. Keinginannya mengaji saja sementara ini jg hrs diapresiasi. Karena dalam 1 huruf saja kan ada 10 kebaikan ya. Terus iringi dengan doa ya bun (senjata utama kita) dan disemangati sehingga dari dalam dirinya tumbuh ghiroh untuk terus membaca, kemudian jadi semangat menghafal dan mengamalkannya.

Biasanya, anak saya suka tambah semangat dengan motivasi ini :

Dari Abdullah bin Amru berkata, Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda : "(nanti di akhirat) dikatakan kpd pembaca Al Qur'an. Bacalah dan naiklah! Bacalah dengan tartil sbgmn engkau membacanya di dunia. Karena kedudukanmu (di akhirat) tergantung akhir ayat yang engkau baca."

Wallahu alam✅

3⃣  Assalamualaikum bu judith...bagaimana cara menjaga hafalan anak-anak, sementara ibunya tidak hafal quran? Kalo ibu nya hafal quran tentu tanpa melihat quran bisa murajaah dimanapun dan kapanpun....tapi untuk yang hafalannya minimalis seperti saya agak repot, kadang quran lagi gak pegang, sementara anak kadang lagi sambil main atau berkegiatan suka sambil melafadzkan hafalannya. Syukron....

Ari_ Depok_IPC6

Jawaban : Wa'alaykumussalam, Bunda Ari.
Saya sendiri masih memiliki hafalan yang terbatas ☺. Dengan menghafal bersama anak-anak  alhamdulillah semakin terpacu dan tambah malu. Gapapa  lah. Kita bersama suami dan anak-anak kan satu tim kehidupan. Saling menjaga, saling menguatkan, saling mendoakan. Kita kan mau sama-sama terus dengan mereka sampai ke surgaNya insyaa Allah. Saya juga tetap pegang mushaf ketika si sulung murojaah. Atau siap sedia Al Qur'an digital jika sewaktu-waktu anak minta dibacakan surah tertentu.

Saya sering pula minta disimak hafalan saya oleh si sulung (dia sambil pegang mushaf). Rasanya dia puas banget kalau bisa nyalahin dan koreksi bacaan umminya. Kadang, dia yang suka nyindir "Hari ini ummi sudah setoran belum?". Atau kalau lagi romantis, dia suka bikin DIY sambil bilang "ini hadiah untuk ummi kalau ummi sudah setor hafalan hari ini" ❤

Tetap semangat ya Bun. Kita saling mendoakan insya Allah.✅

4⃣Assalamu'alaikum warahmatullohi wa barokatuh
Sebelumnya jazakumulloh khoiron katsir atas materinya. MashaAlloh sharing yang mba berikan. Saya memiliki 2 orang anak, aisha (26bulan) dan yusuf (6bulan). Saat ini aisha masih berlatih bicara, sehingga saya masih baru membiasakan memperdengarkan bacaan quran saat tilawah dan memperkenalkan huruf hijayyah. Saya pun merasa kemampuan saya belum seberapa. Adapun saya juga sering membacakan buku sebagai tambahan, jika ada bacaan quran saya bacakan juga, tapi apakah itu tepat? Sehingga, rasanya kurang optimal menghadirkan quran di rumah? Bagaimanakah membuat buah hati kita dekat dengan quran? Apakah benar-benar harus memiliki aktivitas rutin?
woro_bekasi_ipc6

Jawaban : Bunda Woro
Beda usia kedua putra dan putri Bunda hampir seperti kedua putri saya. Masya Allah, yang sudah bunda lakukan sangat bagus. Semoga Allah limpahkan banyak keberkahan ya.
Yang saya maksud dengan rutin artinya paparan kita dilakukan dengan kontinue. Bukan seharian full bersama Al Qur'an, kemudian off dan baru ON lagi bulan depan atau semisalnya. Kalau belum bisa setiap hari, setidaknya seminggu dua kali, atau waktu sembarang (pas mood anak lagi oke) tapi dilakukan secara kontinue (usahakan tidak off terlalu lama).

Karena putra putri bunda juga masih kecil-kecil, saya rasa memang kita ga bisa mengharapkan sesuatu yang wow dan instan. Melihat mereka nyaman dan enjoy dengan stimulasi yang kita berikan adalah nilai plus tersendiri.

Sekali lagi, kita sedang menanam keimanan ya bun. Mungkin sebagian orang melihat memperdengarkan Al Qur'an sepele sebagaimana menyiram tanaman air pagi dan sore. Tapi jangan pernah putus doa pada Allah semoga upaya kita semakin membuatNya ridho dan melimpahkan banyak keberkahan dalam keluarga. Aamiin.✅

5⃣Sejak usia berapa sebaiknya dimulai menghafal alquran?
nurma_IPC8_sby

Jawaban : Bunda Nurma
Usia 2-4 tahun anak mengalami lonjakan bahasa, dimana ia mampu menyerap banyak kosa kata baru. Begitu pula ketika sering diperdengarkan Al Qur'an atau surah-surah pendek, insayaa Allah mudah sekali mereka serap.

Maka, biarkan mereka banyak menyerap dan melantunkan hafalannya pada saat yang mereka suka (good mood). Kecuali mereka sudah bisa diajak duduk manis atau tenang (anak saya kadang sambil bermain lego/wooden block) barang 5-10 mnt untuk menyetorkan hafalannya dan menyimak koreksi di setiap waktu yang disepakati (misal setiap bada maghrib). Mereka tidak merasa seperti didata atau dites, tidak apa-apa. Yang penting orangtua selalu pantau perkembangannya. Dalam hal ini perbedaan kesiapan usia anak pasti ada. Setidaknya, pada usia 7 tahun, dimana anak sudah mulai membiasakan sholat fardhu secara syariat, anak sudah mampu membaca (hafal) Al Fatihah dan beberapa surah lainnya dengan tartil dalam sholatnya.✅

6⃣ Assalamu'alaikum mbak Judith..ketemu lagi di sini ^_^
Gimana tipsnya jika pas kita ngaji (biasanya setelah sholat fardhu), anak ikutan tapi dia malah buka-buka Al-Qur'an kita. Sudah diberi AlQur'an sendiri, kadang dia buka-buka halamannya sambil 'komat-kamit' (anak saya 21 bulan belum bisa ngomong), namun ya terkadang dia "ngisruh" bacaan kita alhasil ujung-ujungnya ga bisa ngaji. Kira-kira gimana cara mengatasinya ya mbak?
Terima kasih
Santy_Medan_IPC6

Jawaban : Bunda Santy
Alhamdulillah Allah pertemukan kita lagi pada forum kebaikan ya Bun
Barokallahu fiikum. Masya Allah, pasti gemes ya liatnya. Semoga ini awal tumbuhnya cinta dalam hatinya kepada Al Qur'an ya Bun. Mirip seperti anak saya usia 2 tahunan. Di keluarga kami, setiap orang memiliki mushafnya sendiri. Mushaf pertama si sulung bentuknya unik banget. Tambal sulam solasi dan lem dimana-mana. Tapi selalu mushaf itu yang dia suka. Sampai akhirnya ketika perkembangan motorik halusnya semakin baik dan dia mulai bisa diberi pengertian bagaimana adab ketika mengaji, alhamdulillah Al Qur'an rapi dan terawat  (ganti mushaf baru ketika mulai bisa tilawah sendiri)

Semoga bundanya selalu bersabar dengan "hiburan" ini ya. Kadang ketika punya baby, kita juga harus punya me time atau waktu tersendiri untuk berduaan dengan Al Qur'an.
Nah, kita juga jadi teringat ya bahwa memang ada adabnya bagaimana memegang Al Qur'an. Sesekali membiarkan anak menyentuh, mencoba membuka lembarannya dan "bergaya" membaca itu tidak masalah. Hanya saja kita jadi perlu sambil pantau agar tidak diperlakukan dengan tidak semestinya (misal disentuh dengan kaki, lempar, dsb). Melatih motorik halusnya membuka lembaran kertas, memegang buku, dsb itu juga penting, agar dia bisa lebih apik memperlakukan Al Qur'an dan banyak berinteraksi dengannya.✅

7⃣ Assalamualaikum Teh Judhit. Materi yang bagus terima kasih.
Teh bagaimana mengajarkan anak agar mencintai dan menghafal quran. Anak saya masih 9 bulan.. Bagaimana cara mengajarkannya teh.. makasih..
uma tisa_ipc 10

Jawaban : Bunda Uma Tisa
Wa'alaykumussalam. Sebagaimana yang telah saya sampaikan, salah satu cara menumbuhkan kecintaan adalah memberikan pengalamannya berinteraksi dengan Al Qur'an. Karena ananda masih bayi, maka indera pendengarnya yang bisa kita optimalkan dengan itu. Sering memperdengarkan Al Qur'an atau tilawah di dekatnya.

Selain itu, sebagai orangtua, tentu saja senjata pamungkas kita doa ya bun. Doa orangtua kan selalu pas dan cocok untuk anaknya. Apalagi ketika bayi masih kecil dan lengket sekali dengan kita. Setiap menyusui, ketika membelai badannya, menimang bobonya, memeluknya, dsb jangan lupa sambil didoakan. Tentu saja hal ini selain waktu-waktu doa yang mustajab ya (sepertiga malam, hari jumat, ketika sholat, dsb).

Kelak semakin ananda tumbuh dan berkembang, maka kita bisa lebih memvariasikan lagi stimulus yang diberikan bersama Al Qur'an.✅

8⃣ Teh judith..Terimakasih atas pengalaman yang sudah dibagikan..☺
Bagaimana metode menghafal dan belajar membaca al-quran untuk anak-anak seusia putri teh Judith?
Menurut teh judith...bagaimana jika pembelajaran al-quran memakai media gadget? jazakumullah
afi_ipc8_pontianak

Jawaban : Bunda Afi
Metode menghafal anak saya adalah dengan talaqqi (saya membacakan berulang, anak menyimak dan menirukan bacaan saya). Metode ini yang digunakan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam ketika menyampaikan Al Qur'an kepada para sahabatnya.

Kadang memang anak saya mengalamai kejenuhan. Biasanya saya dan suami buatkan game sambung ayat, atau kami murojaah estafet per ayat, tebak surat, dibuatkan DIY surat-surat yang sudah dihafal, dsb.

Untuk belajar membaca, sebelum usia 3 tahun, Hania belajar mengenal hijaiyah lewat craft yang kita buat sama-sama, bermain peran (misal tea party dengan tamu berupa huruf hijaiyah card), engklek hijaiyah, flashcard hijaiyah, dsb. Atau saya juga sempat buatkan poster berupa salinan halaman iqra yang saya ganti setiap hari dan saya tempel di dinding kamar (supaya selalu terlihat). Setelah si anak mulai bisa diajak duduk manis menyimak buku min 5-10 menit, maka saya mulai menggunakan iqra (rosm utsmani). Awalnya hanya 1 sesi per hari. Tapi karena ternyata anaknya suka dan "ketagihan", akhirnya kami lakukan 2 sesi per hari (setiap pagi dan sore).

Saya ga antigadget. Anak-anak saya persilakan menonton video-videi tahfiz cilik atau cupilkan huruf-huruf hijaiyah. Tapi semata hanya sebagai instrumen pendukung. Karena ketika menonton, posisi anak sebagai pembelajar yang pasif. Saya juga khawatir kesehatan mata anak-anak juga sih (pengennya anak-anak tidak perlu berkacamata seperti umminya). Saya pikir, interaksi langsung akan lebih mengena dan berkesan. Selain itu, dengan belajar berhadapan langsung, maka anak akan lebih jelas memperhatikan bagaimana sebuah huruf keluar dari makhrajnya, suaranya jelas seperti apa, dsb. Waiyyaki.✅

9⃣ Assalamualaikum wr wb. Anak saya kelas 3 sdit pelajaran yang paling lemah bagi dia adalah tahfidz atau hafalan Quran. Saya tidak memaksa dia dan memohon guru tidak memberi tekanan. anaknya tips visual, sedangkan adiknya tipe auditory cenderung mudah menghafal. mohon sarannya
Agustini_Kudus_IPC8

Jawaban : Bunda Agustini
Wa'alaykumussalam warrohmatullahi wabarokatuh
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan bahwa sebaik-baik aktivitas adalah belajar Al Qur'an dan mengajarkannya. Menjadi hafal adalah karunia tersendiri dari Allah. Tentunya setiap anak dengan keunikannya tersendiri memiliki kemampuan yang berbeda. Maka, memang yang perlu diapresiasi adalah usaha ananda menjaga interaksinya dengan Al Qur'an. Selalu dibesarkan hatinya agar istiqomah bersama Al Qur'an, tak perlu berkecil hati. Yang kita cari adalah ridhoNya Allah.

Perbedaan tipe belajar Kakak dan Adik agaknya bisa jadi kombinasi yang bersinergi ya Bun. Kita bisa bantu Kakak yang belajarnya dominan visual, adiknya bisa ikut belajar dengan menyimak (mendengar). Anak pertama saya juga demikian. Dia lbh mudah menghafal dengan memperhatikan mulut atau gerak tangan saya. Sedangkan yang kedua suka tiba-tiba muncul-hilang di ruangan dan muter-muter sambil loncat-loncatan.Tak lama di lain kesempatan, baru ketahuan ternyata adiknya hafal juga
Semoga kedua ananda selalu istiqomah. Barokallahu fiikum✅

�� Assalamualaikum
Bagaimana dengan saya yang Ibu bekerja.. yang baru bisa intens ke anak sepulang kerja sekitar after magrib..sabtu saya masih kerja setengah hari..minggu libur..
Mengajarkan ke anak bagaimana ya Teh..biar dia enjoy juga..
Karena seharian anak saya diasuh neneknya...
Di usianya yang 4 tahun ini alhamdulillah baru hafal alfatihah.
Mohon tips nya teteeh.
Widyas_Bogor_IPC7

Jawaban : Bunda Widyas
Semoga Allah mudahkan dan berkahi segala usahanya. Saya bisa bayangkan betapa lelahnya sepulang kerja untuk tampil fresh bersama ananda.

Mungkin bunda juga bisa optimalkan saat istirahat dengan ananda, misalnya.
Pengalaman saya, saat menjelang bobo (kelonan atau pilow talk) adalah momen yang berharga untuk menguatkan bonding dengan anak. Apalagi ananda sudah berusia 4 tahun ya, sudah asik diajak berdiskusi.

Kita bisa mereview kegiatannya seharian sambil memberi masukan nilai-nilai dalam Al Qur'an. Atau bercerita tentang kisah dalam Al Qur'an. Atau membacakannya Al Qur'an hingga ia terlelap. Wiken atau saat family day (ayah bunda libur), bisa dijadikan semacam puncak tema dari nilai-nilai dalam Al Qur'an atau surah tertentu yang sedang kita usung dalam 1 pekan tersebut.

Tak lupa pesankan pada orang rumah untuk bantu mengkondisikan lingkungan sekitar ananda (tv, gadget, apa yang biasa didengar dan lihat) agar mendukung penjagaan fitrahnya. Doa dari ayah bundanya pun ga putus ya.. Sebaik-baik penjagaan adalah penjagaan dari Allah, dan Allah akan menjaga kita selama kita menjaga hakNya.
Barokallahu fiik.✅

�� Div. Administrasi ��
��〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
�� Islamic Parenting Community ��
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰��

�� fan page: https://m.facebook.com/isparentingcommunity

�� Instagram: @islamicparenting

�� twitter: @isparentingcom

�� blog: isparenting.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar