Sharing materi IPC/42
Jum'at, 13 November 2015
1 Shafar 1437
_______________________
Disarikan oleh: Riesya Utami
Tema: Parenting
MELATIH ANAK UNTUK BERBAGI
"Punya aku!” teriak Dino keras. Ranti ibunya dibuat geleng-geleng kepala dengan sikap Dino, putranya yang berusia 4 tahun. Dino sulit sekali diajak berbagi, apapun itu. Mainan, makanan bahkan sekadar tempat duduk.
"Berbagi” adalah menggunakan atau menikmati sesuatu bersama orang lain. Pada usia 3-4 tahun, berbagi bukanlah hal yang mudah dilakukan. Anak usia ini belum mengerti perbedaan antara "berbagi suatu benda" dengan "menyerahkan kepemilikan atas sebuah benda". Ia takut temannya tidak mengembalikan mainannya.
Seperti halnya Dino, kebanyakan anak memang tidak senang berbagi, kapanpun itu. Tidak mau berbagi sebenarnya insting bertahan hidup (survival instinct). Insting ini membuat anak mempertahankan miliknya.
MENGAPA PERLU BELAJAR BERBAGI?
Susanne Ayers Denham (dalam http://www.kancilku.com/Ind//, 2015), seorang psikolog perkembangan di New York (AS), menyatakan bahwa belajar berbagi memang sulit bagi sebagian anak, tetapi pada akhirnya setiap anak akan belajar bahwa berbagi itu penting sebagai sarana menjalin pertemanan dan diterima dalam suatu komunitas atau kelompok. Menurut Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), MSi. (2015), belajar berbagi juga melatih kecerdasan emosi interpersonal anak.
MELATIH ANAK UNTUK BERBAGI
1⃣ Contohkan pada anak
Misalnya bagikan kue atau permen kita secara merata kepada semua anggota keluarga di hadapan si kecil, agar dia melihat dan mengikuti perilaku tersebut.
2⃣ Bermain bersama teman sebaya atau menginap di tempat saudara
Beri kesempatan anak bersosialisasi dengan anak-anak seusianya. Saat menginap, anak berkesempatan belajar berbagi, misalnya berbagi makanan, mainan atau buku yang dia bawa, dengan sepupunya.
3⃣ Setumpuk mainan untuk bersama
Berikan mainan yang bisa dimainkan bersama. Misalnya puzzle, lego, pancingan atau balok-balok. Anak-anak bisa bermain bersama tanpa khawatir tidak kebagian.
4⃣ Berikan perintah dengan jelas
Anak-anak memahami perintah secara harfiah. Jadi daripada mengatakan, “Mainnya yang manis ya.” Lebih baik jelaskan pada anak, “Kalau main ayunan gantian ya.”
5⃣ Bantu anak memahami akibat perbuatannya
Jika anak merebut mainan dari temannya, bantu dia memahami akibat perbuatannya itu. Daripada memarahinya, lebih baik dekati anak dan katakan, “Bagaimana perasaanmu jika sekarang ibu mengambil mainan itu dari tanganmu?” Lalu lakukanlah. Anak akan terkejut ketika Anda merebut mainannya dan akan berpikir ulang jika hendak melakukannya. Ajak dia mengembalikan mainan itu dan meminta maaf.
6⃣ Pujilah perbuatan baiknya
Berikan pujian jika ia berbagi dengan temannya atas kemauan sendiri.
7⃣ Simpan mainan kesayangan
Biarkan anak menyembunyikan beberapa mainan yang paling disukainya. Letakkan di lemari yang tidak dapat dijangkau anak lain. Jelaskan pada anak bahwa mainan itu tidak boleh dimainkan di depan teman-temannya. Dengan memberi pengertian semacam itu, mungkin dapat membuatnya tergerak berbagi mainan kesayangannya.
8⃣ Bermain bergiliran
Konsep bermain bergiliran lebih mudah dipahami anak balita daripada konsep berbagi mainan. Gunakan timer dan pasang dalam waktu singkat, misalnya 1-2 menit. Biarkan anak bermain suatu benda secara giliran dengan temannya. Dia akan membiarkan temannya bermain dengan benda tersebut, karena dia tahu benda itu akan kembali padanya setelah waktu bermain temannya habis.
9⃣ Bermain peran
Tunjukkan pada anak, bahwa dengan bersedia berbagi, dia akan mendapatkan jalinan pertemanan yang erat dan menyenangkan. Misal saat bermain dokter-dokteran, ajak salah satu teman anak untuk bermain bersamanya. Jadikan boneka sebagai pasien. Minta si kecil berperan sebagai ibu si pasien, dan memberikan bonekanya pada temannya yang berperan sebagai dokter, untuk diperiksa. Setelah selesai, minta temannya mengembalikan boneka pada anak.
Atau saat bermain bengkel mobil. Katakan pada anak mainannya rusak dan harus dibawa ke bengkel. Minta dia memberikan mobilnya pada temannya yang berperan sebagai mekanik. Setelah selesai, minta temannya mengembalikan mobil-mobilannya itu pada anak.
Bersedekah
Anak bisa belajar memberi perhatian dan berbagi pada orang lain ketika Anda mengajaknya berpartisipasi membantu anak-anak dan orang yang kurang beruntung, misalnya dengan:
Menyedekahkan sebagian uang jajan atau uang hadiah, baju, buku cerita, buku dan alat tulis, serta mainan yang bersifat mendidik, pada panti asuhan atau badan dan yayasan amal. Lakukan juga ketika ada bencana. Biarkan ia ikut memutuskan bentuk apa yang akan ia sedekahkan.
Dengan cara ini selain belajar berbagi, anak juga belajar untuk memprioritaskan apa yang masih ia perlukan, mana yang bisa ia berikan kepada orang lain, tentunya dengan tetap memperhatikan kelayakan benda yang akan diberikan tersebut.
Mengikutsertakan anak saat memberikan sedekah atau zakat fitrah. Tentunya dengan sebelumnya menjelaskan konsep zakat fitrah maupun sedekah kepada anak, dengan cara dan kalimat yang sederhana agar mudah dipahami anak.
Anak juga akan berpikir bahwa kita tidak mungkin hidup bersendiri. Mulai dari lahir sampai kelak meninggalkan yang fana ini, kita membutuhkan orang lain. Maka perlu memikirkan juga orang lain.
Anak bisa melihat sendiri bahwa masih banyak anak-anak yang tak seberuntung dirinya. Sekaligus mensyukuri kalau mampu berbagi dan memberi, berarti kita memperoleh karunia yang lebih yang patut disyukuri.
KADANG ANAK TIDAK PERLU BERBAGI
Anak sebaiknya tahu, ada saatnya ia tidak perlu berbagi. Misal, si kecil baru dibelikan sepeda baru dan Anda mengajaknya di taman. Seorang anak yang tidak pernah Anda lihat sebelumnya mendekat dan ingin meminjam sepedanya. Untuk kasus seperti ini ajarkan anak untuk mengatakan “tidak” atau “lain kali” dengan sopan dan beranjak pergi. Dukunglah anak dan biarkan ia mengetahui bahwa terkadang kita tidak perlu berbagi dan waspada, terutama dengan orang yang tidak dikenal.
REFERENSI
Dr. Handrawan Nadesul. Mengajarkan Anak Bersyukur Melalui Sedekah. https://www.sahabatnestle.co.id/content/view/mengajarkan-anak-bersyukur-melalui-sedekah.html (2015)
Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), MSi. Soedjatmiko, Sp.A(K), MSi. Pentingnya Stimulasi Bermain untuk Merancang Kecerdasan Multipel. http://http://idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-stimulasi-bermain-untuk-merangsang-kecerdasan-multipe (24 Juli 2015)
Zuhari Haurani. Bila Si Kecil Anti Berbagi (Pelit). http://www.anakku.net/bila-si-kecil-anti-berbagi.html (24 Juni 2012)
Mau Berbagi. http://www.kancilku.com/Ind// (9 November 2015)
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Islamic Parenting Community
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
fan page: https://m.facebook.com/isparentingcommunity
Instagram: @islamicparenting
twitter: @isparentingcom
blog: isparenting.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar