Jumat, 27 November 2015

MEMBANGUN MISI DAN VISI KELUARGA

Resume Kulwap KLUB PIJAR [5/9/2015]
 
Topik: MEMBANGUN MISI DAN VISI KELUARGA

Pemateri: Septi Peni Wulandani

Moderator: Irma

��Pertanyaan di awal keluarga kita lebih mirip sebuah kerumunan atau sebuah team?

Apa persamaannya? Dua-duanya merupakan sekumpulan manusia.

Perbedaannya kerumunan itu sekumpulan manusia yg berkumpul tanpa arah tujuan.
Sedangkan team sekumpulan manusia yg berkumpul dengan tujuan yg sama.

Di awal kami menerapkan pola komunikasi suami istri yang produktif dulu. Terbangun common interest yang sama. Kalau bicara tentang pendidikan anak, maka mata kami  berbinar-binar.

Setelah kami tentukan satu waktu untuk menyelenggarakan family strategic planning, yaitu setiap tgl 1 Muharram. Di situlah saatnya kami mendengarkan mimpi anak-anak.

Tiap tahun kami tentukan tagline keluarga, sebagai misi keluarga yg kami jalankan. Contoh: It's OK to make mistakes, as long as I learn from my mistakes. Selama tahun itu tahun anak-anak bereksplorasi untuk projectnya, apapun itu.

Kami tidak pernah menerapkan reward dan punishment, tapi lebih pada membangun kesepakatan dan kesadaran serta konsekuensi yang harus dilakukan.

Kami juga tidak pernah menjalankan evaluasi untuk project anak-anak pra aqil baligh, adanya hanya apresiasi. Setelah aqil baligh baru kami terapkan evaluasi ✅

SESI TANYA JAWAB:

1⃣ Apakah tagline tersebut mengikuti milestone tertentu? Maksudnya apakah ada roadmap proses life learning sebelum aqil baligh tadi?
��Septi PW: Tidak Mbak, biasanya kami rumuskan dari mimpi anak-anak. Kalau roadmap kami lakukan untuk aktivitas sehari-hari. Ini contohnya (gambar terlampir)

2⃣ Mulai usia berapa anak2 bisa dilibatkan dalam membuat visi keluarga?
��Septi PW: Sejak mereka kecil selalu kami libatkan, dengan cara anak-anak masing masing. Kami tidak pernah menganggap anak-anak kecil, pendapat mereka selalu kami tanggapi serius

3⃣ Dengan cara seperti apa ya? Kemungkinan mereka tidak mengerti dengan yangg kita bicarakan /visi kita sehingga kita anggap mereka jalani saja seperti yg kita mau.
��Septi PW: Anak-anak mungkin memang tidak bisa memahami perkataan kita, tapi mereka tidak pernah salah mengcopy. Maka kami selalu contohkan berkomunikasi yang dipahami anak-anak, misal dengan gambar, dengan mendongeng dsb. Jadi visi dibuat bukan seperti yang kita mau, tapi seperti yang anak-anak mau.

4⃣ Setelah menerapkan visi keluarga, apakah cara menuju ke sananya juga didiskusikan? Atau ada hal2 yg harus dilakukan tanpa kompromi?
��Septi PW: Mb Erika, biasanya kami saling mendukung sebagai team. Project Elan misal, maka kami semua siap mendukung sebagai team. Jadi satu tahun kami full dengan schedule project anak-anak

5⃣ "Kami tidak pernah menerapkan reward dan punishment, tapi lebih pada membangun kesepakatan dan kesadaran serta konsekuensi yg harus dilakukan." Ini contohnya seperti apa? Apa bedanya konsekuensi yang harus dilakukan dengan reward punishment?
��Septi PW: Sangat beda, misal anak-anak sepakat tahun ini akan menyelesaikan 1 buku 1 minggu, maka konsekuensinya dia harus menginvestasikan waktunya tiap hari, kalau tidak tercapai mereka sendiri yang menentukan konsekwensi berikutnya.

6⃣ Bagaimana memupuk anak supaya curious, karena terkadang kita kurang sabar dan kurang telaten sehingga membuat mereka lebih senang belajar dgn org lain?
��Septi PW: Kunci mendidik anak itu adalah BELAJAR bukan MENGAJAR. Saya tidak pernah mengajar anak2, melainkan belajar bareng. Mempersilakan anak2 membuat pertanyaan sebanyak-banyaknya.

7⃣Bisa kasih contoh projek yg sudah dikerjakan seperti apa ya, biar ada bayangan keluarga sebagai tim mengerjakan proyek bersama.
��Septi PW: Contoh project pertama Elan adalah robocycle. Elan hobi bongkar pasang mainan. Salah satunya robot. Pertanyaan waktu itu:
a. Mengapa robot itu mahal?
b. Mengapa tidak kita membuat robot yg murah?
c. Bagaimana jika kita membuat robot berbahan baku sampah.
Dari situ akhirnya keluar project Robocycle. Elan berkeliling desa mengajarkan struktur berpikir melalui robocycle. Contohnya robot tangan yg di display di Perak kemarin
Setelah itu masuk project ke 2, semua based on hobby. Project ke 2 bernama SoBike (school on bamboo bike). Elan hobi sepedaan dan tidak sekolah. Jadi setiap pagi yg lain berangkat sekolah, dia berangkat sepedaan. Muncul pertanyaan:
a. Mengapa belajar itu harus duduk manis?
b. Mengapa tidak belajar sambil bergerak?
c. Bagaimana jika belajar sambil bersepeda?
Maka munculla aktivitas bersepeda ke para maestro, bersepeda melihat genome alam, ngaji on bike dll.

8⃣ Mba Septi dan keluarga masih mikirin tentang anak harus belajar mapel2 ala sekolahan ga sih?
��Septi PW:  Kami tidak mengajarkan mapel ala sekolah, tapi mereka belajar mapel sendiri based on project. Misal untuk merakit sepeda Elan perlu ilmu math dan fisika. Ketika akan dikirim ke Jepang, dia belajar bahasa.

(PERTANYAAN MENGENAI ROADMAP –gambar terlampir)

9⃣ Di gambar ada tulisan iman akhlak adab bicara itu maksudnya apa?
��Septi PW: Itu tahapan kami memunculkan fitrah keimanan anak. Tahap awal iman kami kuatkan, kemudian akhlak, adab dan cara berbicara.

�� Jadi untuk memunculkan fitrah belajar anak2  kita mulai dari intellectual curiosity nya lalu creative imaginationnya dst gitu yah mba?
��Septi PW: Yup betul...

1⃣1⃣ Pertanyaan terakhir, tentang 4E untuk menumbuhkan fitrah bakat anak itu maksudnya bagaimana?
��Septi PW: Dalammenerapkan 4E, kami memberikan anak-anak pengalaman yang kaya wawasan, kaya gagasan, kaya aktivitas. Dari situ kami bisa melihat mana aktivitas yg membuat anak-anak ENJOY dan merasa EASY, kemudian diperkuat agar EXCELLENT di satu bidang. Perbanyak jam terbangnya, kesungguhan itu akan menghasilkan EARN. Dengan demikian anak-anak akan menjalankan hobi dan sekaligus dibayar. Anak-anak kami menjalankan hobi dan keliling LN. Rata-rata mereka merasakan hal ini di usia 11-14 th.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar