Jumat, 27 November 2015

Perkembangan Anak Usia 0-2 Tahun.

�� Resume Kuliah WhatsApp Grup Rumah Main Anak 4 ��
Judul materi : Perkembangan Anak Usia 0-2 Tahun.
Hari / Tanggal : Selasa / 24 November 2015
Pemateri : Puti Ayu Setiani, S. Psi
Peresume : Julia Sarah, S.Hum

“Every child is unique, and every family deals with different issues. There are some things, however, that many parents deal with around the same time. The way parents choose to deal with these issues has an important impact on how healthy and competent their children grow up to be. “

Kutipan tersebut saya dapat dari kata-kata awal pada laman www.parentfurther.com. Setiap anak adalah unik, dan masing-masing keluarga memiliki tantangan yang berbeda untuk dihadapi. Akan tetapi, terdapat beberapa hal umum yang sebenernya “wajib” tiap orang tua mengetahui tidak lain demi kebaikan anak mereka sendiri. Salah satu pengetahuan yang harusnya dimiliki oleh orangtua adalah pengetahuan mengenai tahap perkembangan anak. Nah, di sini saya akan sedikit memberi pembukaan bagaimana sih perkembangan anak di usia 0-2 tahun pertamanya.
Sebelumnya kita bicara mengenai apa itu pertumbuhan dan perkembangan ya. Pertumbuhan adalah perubahan besar, jumlah ukuran, atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu. Untuk anak usia 0-2 tahun misalnya perlu secara rutin ditimbang berat badannya, dan juga mengukur lingkar kepala dan juga lingkar lengan. Nah, mengukur lingkar kepala ini rutin dilakukan, mengapa? Hal ini menjadi salah satu deteksi dini hidrocefalus ataupun microcefalus. Untuk itu mengapa dateng ke Posyandu dan pengisian KMS harus rutin dilakukan untuk mengecek ini.

Selanjutnya, apa itu perkembangan? Menurut Soetjiningsih (1995), perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Aspek dasar perkembangan ini adalah perkembangan kognitif, emosi, sosial, motorik (kasar dan halus), dan juga perkembangan bahasa.
Prinsip perkembangan sendiri merupakan hasil interaksi dari genetis dan lingkungan. Perkembangan juga mengikuti hukum chepalocaudal, yang dimulai dari kepala ke kaki, dan proximidistal, dimulai dari bagian tengah tubuh ke samping. Contoh  prinsip chepalocaudal ini adalah ketika bayi, ukuran kepala aalah 1/3 dari panjang badan. Untuk proximidistal, contohnya bayi mampu miring terlebih dahulu sebelum akhirnya dapat tengkurap.

Untuk pembagian tahapan sendiri, Hurlock membagi masa 0-2 tahun menjadi masa neonatal (lahir- 2 minggu), dan juga bayi (2 minggu – 2 tahun). Perkembangan bayi di usia ini amatlah cepat karena masa ini merupakan masa-masa awal mereka mengenal dunia. Pembelajaran bayi yang utama melalui mendengar, melihat, dan merasakan, karena pada tahap ini dikenal periode sensorimotorik. Bahasa komunikasi pertama mereka adalah menangis. Menangis membuat orangtua tau bahwa mereka butuh makanan, kenyamanan, ataupun stimulasi (Berk, 2013). Lapar biasanya menjadi penyebab umum bayi menangis, namun mereka juga akan menangis ketika temperatur tubuh berubah saat diganti pakaiannya, bunyi yang tiba-tiba, atau terdapat stimulus yang “menyakitkan”. Bahkan bayi juga bisa menangis ketika mendengar suara bayi lain menangis. Kompak banget ya ternyata sesama bayi :D.

Bayi juga belajar lewat pengamatannya terhadap orang sekitar. Mereka dapat meniru ekspresi wajah dan juga gerak tubuh orang dewasa. Sering kan ngeliat bayi yang ikutan melet ketika orang di depannya melet, atau bayi yang dadah-dadah ketika mengantar orang pergi.

Di tiap kemampuan baru yang bisa dilakukan bayi, terdapat empat faktor yang saling mempengaruhi, yaitu:
1 Perkembangan sistem saraf pusat bayi (otak dan teman-temannya)
2 Kapasitas gerakan tubuhnya (yang berdasarkan umur)
3 Tujuan yang ada di pikiran bayi (motivasi internal yang dimiliki bayi. Secara naluriah, bayi memiliki tujuan ketika menggerakkan tubuhnya ataupun untuk mencapai tujuan tertentu), dan yang keempat
4 Dukungan lingkungan terhadap perilaku bayi.

Stimulasi yang diberikan lingkungan kepada bayi merupakan suatu faktor penting agar bayi berhasil melakukan tugas perkembangannya. Akan tetapi, stimulasi yang berlebihan tidak selamanya baik bagi bayi. Stimulasi harus diberikan sesuai dengan kesiapan atau kematangan bayi sesuai dengan umurnya.

❓✔️ Tanya Jawab :
1. mengukur lingkar kepala ada batasan usia kah?
(Juli / Kahl (16m) / Jakarta Barat / RMA4)

Jawab: Semangat pagi, Mba Juli. Untuk lingkar kepala sebaiknya diukur setiap bulan pada tahun pertama, setiap 3 bulan pada tahun ke dua, dan setiap 6 bulan pada usia 3 sampai 5 tahun. Semoga menjawab ya..

2. Bagaimana cara memperbaiki pola asuh jika sy sbg org tua terlanjur salah atau keliru saat mendidik anak sy sewaktu usia 0-2thn? Dia suka pukul2 kepala sendiri jk ditegur atau apa yg diminta tdk di dapat. Waktu tidur malam sering gelisah, bisa minta ngedot susu sampai 3-4kali dlm semalam.
(Diah Kurniati / damizz(2,8y) / Martapura-Kalsel / RMA 4)

Jawab: Halo, Mba Diah. Alhamdulillah..dengan lebih dahulu mengetahui dan menyadari kesalahan tersebut sudah merupakan langkah awal utk memperbaiki pola asuh. Selanjutnya, Mba Diah dan suami bisa sama2 belajar mengenai ilmu parenting dari berbagai sumber terpercaya, baik buku, seminar, maupun mengikuti komunitas parenting. Semangat belajar dan bertumbuh bersama, Mba. Tetap semangat.

3. Mumpung sempat aq mau lgsg bertanya....
Baby rufi, sdh sekitar 3 minggu ini nempel terus dg saya umi nya....ngga mau ikut siapa pun termasuk baba nya....nangis histeris. Apakah wajar bun hal yg demikian? Gmn ya cara mengatasinya ato memang ada masa nya? Oh iya saya sehari2 memang cuma berdua dg rufi
Trima kasih bun atas jawabannya ����
(Yulia / Rufi(6m) / Jakarta Selatan / RMA 4)

Jawab: Hai mba Yulia. Apakah bayi Mba Yulia juga inginnya menyusuuu terus? Jika ya, bisa jadi baby Rufi sedang mengalami growth spurt. Umumnya, bayi akan mengalami growth spurt atau disebut juga percepatan pertumbuhan. Bayi mengalami percepatan pertumbuhan pada usia 7-10 hari, 2-3 minggu, 4-6 minggu, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan atau lebih, atau bisa juga di waktu-waktu yang lainnya. umumnya growth spurt terjadi dalam 24-48 jam, tetapi bisa juga lebih lama, sampai dengan 1 minggu. Tanda-tanda bayi yang mengalami growth spurt adalah: lebih rewel dari biasanya dan lebih sering bangun di malam hari untuk menyusu serta menyusu lebih sering di siang hari.

Berikut beberapa tips saat bayi Bunda sedang mengalami growth spurt.
1. Ikuti kemauan bayi untuk menyusu.
2. Bayi sehat 0-6 bulan yang mengalami
growth spurt tidak membutuhkan asupan lain selain ASI. Ingat2 bahwa prinsip asi ialah supply and demand.
3. Hilangkan pikiran negatif dan kekhawatiran bahwa bayi yang terus menyusu berarti belum kenyang karena ASI-nya kurang atau ASI tidak cukup.
4. Hindari memberlakukan jadwal menyusu pada bayi. Ini dapat membuat bayi stress dan semakin rewel.
5. Tetap makan makanan dengan gizi seimbang, banyak minum air putih, dan tidurlah bersama bayi ketika ia tidur.
6. Tetap perhatikan tanda bayi mendapat cukup ASI yaitu dari kenaikan berat badan bayi pada grafik pertumbuhan, frekuensi BAK minimal 6x sehari, frekuensi BAB yang sering pada awal-awal kehidupannya dan bisa menjadi jarang mulai usia 40 hari.
7. Tetap tenang dan percaya diri.
Semangat ya, Mba Yulia..

4. Mba mau nanya kalo anak ada keinginan terus dia nangis & jerit2 dan setelah kita penuhi keinginannya baru deh berhenti nangis atau jerit2nya.
Gimana mba solusinya agar ga sperti itu.
(Rifsy / Fideria(20m) / Sukabumi / RMA 4)

Jawab: Hai Mba Rifsy. Kondisi anak menangis jerit2 demikian saat keinginannya tak terpenuhi biasa dikenal dengan istilah tantrum. Untuk orangtua dgn anak usia 2-4 tahun, tantrum ini memang salah atu tantangan terbesar. Berdasarkan ilmu dari literatur dan pengalaman saya sendiri, perilaku menolak dan menangis kalau kemauan tidak dituruti atau kalau anak diminta melakukan hal yang tidak dia suka bisa mulai dikurangi atau (mudah2an) dihilangkan dengan membuat kesepakatan bersama. Misalnya, "setelah main, mainannya dibereskan sendiri." Kalau tidak dilakukan, ada konsekuensinya. Misalnya "kalau ada mainan tidak dibereskan sendiri, besoknya kakak ga boleh main mainan itu dulu. Bunda simpan dulu mainannya." Atau, "kalau ke supermarket,  kakak boleh pilih 1 makanan/mainan yg kecil." Kalau anak tiba2 "kalap" dan mau ambil lebih dari yg diizinkan, konsekuensinya anak harus pilih salah satu saja dari yang dia sudah ambil.
Sebelum eksekusi peraturannya, orangtua perlu betul2 konfirmasi ke anak, misalnya "jadi nanti di supermarket kakak pilih satu barang aja ya. Bisa?" Jadi kalau anak tantrum, orangtua punya dasar utk "keukeuh" tidak mengabulkan keinginan anak karena sebelumnya sudah ada kesepakatan dan anak sudah setuju.
Perlu juga ajak anak untuk berlatih mengontrol emosinya sendiri waktu dia mulai tantrum. Saya sendiri paling berhasil kalau bilang, "sekarang kamu ngomong sambil nangis, jadi miss kiki (krn dulu saya guru, hehe) ga bisa ngerti kamu ngomong apa. Miss kiki tunggu sampai kamu berhenti nangis dulu ya, baru kamu cerita kamu maunya apa." Atau kalau anaknya sudah terbiasa, kalimatnya lebih sederhana, "bicaranya ga sambil nangis ya...Kalau sambil nangis, miss kiki ga ngerti kamu bicara apa. Coba, nangisnya stop dulu." Karena anak memang sedang ingin menyampaikan keinginan, dia akan berusaha utk stop nangis. Kalau kita bicara dengan anak yg sedang nangis gerung-gerung, apalagi sampai guling-guling di lantai, kata-kata kita tidak akan sampai ke anak. Anak juga bisa sambil diajak menenanhkan diri, misalnya diajak tarik napas panjang, minum dulu, atau sambkl ditepuk2 punggungnya. Kuncinya suara dan sikap tetap terlihat tenang. Misalny, suara tidak naik jadi teriakan, dan kontak mata terus dengan anak. Anak usia 3 tahun ternyata sudah bisa belajar mengerti situasi, bun. Mereka bisa lihat siapa yang "firm" atau teguh dgn aturan, dan siapa yg bisa "dikalahkan" dgn tangisan mereka. Dengan sikap yg tegas (tapi bukan galak atau marah), anak jadi lebih paham kalau orangtua sedang serius dan mereka ada di posisi harus menurut. (Kiki, tim ahli RMA)
Tentang tantrum bisa dibaca juga di sini  rumahmainanak.blogspot.co.id/2015/09/temper-tantrum.html?m=1

5. Keponakanku di diagnosa dokter mempunyai telapak kaki yg tdk rata sehingga menyebabkan jalannya tdk rata dan cepat cape.
Ibu tdk pnh memakai babywalker dan mengajarkan anak cara jalan secara tradisional (kain diikat dibawah ketiak anak) pada saat anak blm bisa berdiri.
Apakah ini termasuk over stimulus?
(E/jakarta/rma4)

Jawab : Semangat pagi, Bunda E. Penyebab kelainan kaki banyak disebabkan oleh faktor genetik. Namun, ada juga beberapa faktor lain, seperti:
1. Ruang gerak sempit di dalam rahim, kaki anak 'terkunci' di satu posisi sampai lahir (banyak dialami anak kembar).
2. Kebiasaan duduk yang salah. Misalnya duduk dengan posisi kaki membentuk huruf W.
3. Si kecil yang belum cukup kuat menopang tubuhnya akan memaksakan salah satu kakinya untuk menyangga seluruh berat tubuhnya. Akibatnya tungkai bawah dan pergelangan kaki saja yang terlatih, sehingga terjadi ketidakseimbangan kekuatan otot (muscle imbalance).

Berdasarkan narasi Bunda yg menyatakan bahwa anak ditatih berjalan pada saat anak blm bisa berdiri bisa jadi penyebabnya poin nomor 3.

Namun, mohon maaf kami tidak bisa mengklaim jika tidak melihat secara langsung dan tidak mengetahui historisnya. Saran kami, silakan dibawa ke dokter bagian orthopedi untuk diperiksa dan ditangani lebih lanjut. Tetap semangat..

6. Berdasarkan perkembangn apakah anak usia 2 thn sudah bs  paham dgn di bacakan buku cerita?
krn anak sy usia 2th msh lari2 kl dibacain cerita.
(Yanti / Amah(2y) / Tegal / RMA 4)

Jawab : Hai, Mba Yanti. Anak usia 2 tahun InsyaAllah sudah paham dibacakan cerita sederhana dan yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari, misalnya: kisah binatang, cerita keluarga, dongeng, dsb. Bisa jadi gaya belajar anak Bunda adalah kinestetik. Ia belajar dengan bergerak. Sehingga, saat dibacakan ceritapun ia akan lari2. Bunda bisa mengakalinya dengan bercerita sekaligus bermain peran. Misal, kisah kancil dan kelinci. Bunda dapat berperan menjadi kelinci dan anak menjadi kancil. Dengan bergerak, anak kinestetik akan lebih mudah menangkap pelajaran. Semangat, Bunda..

7. Assalamu'alaykum...             Alhamdulillah untuk kemampuan bahasa anak perkembangannya sampai saat ini tdk ada masalah (sudah bisa menirukan nama2 benda,huruf,angka,dll juga mengungkapkan uneg2nya dgn bicara). Namun,anak sya kalo diajak ke playground utk main perusutan,odong2,dll anaknya g mau,entah krn takut/tdk familiar. itu penyebabnya apa ya? Aktivitas apa yg bisa merangsang rada PD/berani anak secara sya dgn suami LDR. (Aprillia / zakiyya(20m) / situbondo / RMA 4)

Jawab: Wa'alaikumsalam. Wrwb. Alhamdulillah yaa Bunda Aprillia. Terkait ketakutan/ketidakinginan si kecil naik odong2 atau perosotan bisa Bunda tanyakan padanya dengan berdialog saat santai (terlebih jika kemampuan ekspresif bahasa si kecil sudah baik). Apakah ia pernah trauma dengan hal tersebut? Pernah dilarang? Atau ditakut-takuti? Cobalah gali perasaannya. Misalnya, "adik kenapa tadi di taman tidak mau main perosotan?" Wahh..kapan2 Bunda mau lihat adik main perosotan nih. Seru loh, Dik. Dulu waktu Bunda kecil juga sering naik perosotan. Seruuu sekali." "Apa yang adik pikirkan dan rasakan saat melihat perosotan/odong2?"

Lalu suatu waktu, ajaklah ia kembali mencobanya. Sebelum berangkat bunda dapat memberitahukannya terlebih dahulu agar ia bersiap. Beri dukungan dengan kalimat2 positif. Seperti "Dek, kita akan ke taman untuk naik perosotan, mau yaa. Ga apa2 kok, nanti Bunda temani" =)
Dampingi ia saat mencoba hal-hal yang ia "takuti". Beri support dan setelah ia mencobanya, berilah applause dan pujian.

Yang pasti, untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya, ia memerlukan ruang untuk dipercaya dan kesempatan. Semangat bertumbuh bersama si kecil, Bunda..

8. Anak saya, laki2 usia 19bulan. Kemampuan berbahasa sangat baik, usia 7 bulan sudah bisa memanggil kakeknya dengan panggilan "abah" dan bukan hanya sekedar memanggil, tapi mengerti panggilan tersebut ditujukannya pada siapa.
Kebetulan sy wanita bekerja, dan bapaknya sedang tugas keluar kota sehak anak sy usia 6 bulan. Jadi mungkin sy kurang punya waktu unt 'family time' selayaknya keluarga lengkap seharusnya. Selama sy bekerja, anak sy bersama kakek nenek nya.
Namun skrg anak sy, menjadi anak yg tidak selayaknya anak2 seusianya. Anak saya terlihat kurang percaya diri, cenderung selalu "mama", dan insecure terhadap lingkungan baru. Anak saya apabila berebut mainan atau hal lainnya cenderung menangis, selalu bertanya apabila ingin sesuatu "boleh?" Jika saya bilang "boleh" maka baru dia berani mengambil sesuatu atau bertindak sesuai yg dimau.
Anak saya selalu ketakutan bila naik mainan/odong2, tidak seperti anak lain yang malah senang sekali.
Pertanyaan saya,
1.apakah ada yg salah dengan perkembangan kognitifnya? Bagaimana pandangan aspek psikologisnya?
2.apakah adanya kesalahan pola asuh?
3.bagaimana stimulus dan cara memotivasi yg baik agar menciptakan anak yg percaya diri sesuai dng perkembangan usianya?
4.apakah sekolah bermain menjadi salah satu solusi untuk anak sy?
Terima kasih banyak.
(Rizka / 19m / Bandung / RMA4)

Jawab: wah..luar biasa perjuangan Mba Rizka, ya.

1-2. Dari cerita yg Bunda paparkan lebih ke permasalahan aspek sosial-emosi dan kemandirian yaa drpd kognitif. Anak menjadi kurang percaya diri, senantiasa ikut "mama", selalu meminta pertimbangan orang lain untuk melakukan sesuatu, juga takut mencoba hal2 baru. Ini sebenarnya kami belum bisa mendiagnosa penyebabnya karena Bunda tidak memaparkan kondisi pengasuhan nenek-kakek yang menjadi pengasuh utamanya. Mungkin Bunda yg lebih mengetahui. Apakah anak mengalami hal2 seperti berikut:
a. Over protection
b. Sering dilarang-larang
c. Sering ditakut-takuti (atau kadang disertai kalimat ancaman)
d. Terlalu dimanja

Jika ya, maka bisa jadi pola asuh seperti di atas yang menjadikan anak Bunda seperti demikian.

Poin no 3 mirip dengan pertanyaan Bunda Aprillia, silakan dibaca jawabannya.

4. Sekolah belum tentu bisa menjadi solusi. Di sekolah, anak Bunda akan bertemu dengan banyak orang yang tentunya membutuhkan skill sosial-emosional serta kemandirian yang baik. Saran kami, skill sosial-emosional serta kemandiriannya perlu disiapkan terlebih dahulu oleh Ayah-Ibunya. Sering-seringlah ajak anak berdialog, gali perasaannya. Dan berilah kesempatan serta ruang percaya diri untuknya. Setidaknya, meski bekerja bunda dapat tetap berquality time minimal 2 jam bersamanya setiap hari (dalam bentuk kegiatan apapun). Jangan lupa, komunikasikan bentuk pola asuh yang bunda serta suami harapkan kepada pengasuh utamanya (nenek-kakek). Tetap semangat!

9. Bunda2, mau tanya.. anak saya, 6 bln kalau ketemu laki2 yg jenggotan dan/atau kumisan, dan bersuara ngebas, pasti nangis kejer. Dr 3 bulan, dia sdh mulai pemilah sm org. Skrg sudah mulai beradaptasi ga sepemilah dl, tp masih takut dgn laki2 yg berkriteria td. Kira2 saya harus bagaimanakan ya biar ga keterusan? Khawatir jd penakut sm orang ��
Apakah memang masanya spt itu ya?
(Yovita / 6m / Bengkulu / RMA4)

Jawab: Hai Ijoo���� Iya, bagus itu kalau bayinya "takut" sama orang asing, berarti normal�� karena memang usia 6-9 bulan bayi mulai mampu membedakan antara orang yang dikenal dan orang asing, termasuk dengan orang asing berciri tertentu. Mereka akan merasa nyaman dengan orang yang dikenal dan merasa cemas di sekitar orang asing.

Usia 18 bulan pada umumnya bayi baru tertarik bersosialisasi dan usia 2 tahun mulai senang bermain bersama teman sebayanya. Semoga di usia ini si bayi sudah tidak "takut" dengan "Om berkumis" yaa��

10. Bun saya mau nanya, masalah anak yg tidak PD dan insecure juga terjadi pada anak saya. Dy selama ini takut dg orang asing dan tidak mau berbaur dg teman2 sebayanya jika blm kenal. Pernah saya konsulkan dg salah seorang praktisi anak,  beliau kepala sekolah tk dan paud. Bisa jd krn anak saya over protected. Anak saya mmg sering digendong oleh pengasuhnya (saya bekerja). Saya sdh sering blg unt tidak gendong, cm mmg anak saya jika sdh merasa insecure dy pasti mnta gendong, kalo tdk dituruti pasti akan tantrum. Saya jd kepikiran, anak usia segitu kan sedang pesatnya perkembangan sel otak, apakah ada pengaruh jika sering tantrum bs mematikan sel otak?
(Yulia / Tangerang / RMA4)

Jawab : ����mba Yulia anaknya usia berapa ya?

Sedikit banyak ttg insecure mirip dengan pertanyaan mba Rizka ya. Apakah anak mba Yulia juga mengalami hal yang saya sebutkan di atas?

Terkait sel-sel otak anak usia dini, bukan tantrumnya yang membuat rusak, namun tindakan apakah yang dilakukan hingga membuat anak tantrum. Sinaps-sinaps di otak ini dapat rusak bahkan dengan bentakan yang mengagetkan anak. Sinaps-sinaps otak yang rusak ini tidak bisa diperbaiki. Namun, sinaps-sinaps otak anak usia dini bertumbuh dan beregenerasi dengan pesat, sehingga senantiasa muncul sinaps-sinaps baru yang siap untuk distimulasi kembali. Oleh sebab itu, penting sekiranya untuk menjaga pertumbuhan dan perkembangan sinaps-sinaps si kecil yang jumlahnya milyaran ini.

Terkait penanganan tantrum bisa dibaca pada jawaban no.4. Semangat mba Yulia����

Tidak ada komentar:

Posting Komentar