Resume Kuliah WhatsApp Grup Rumah Main Anak 4
Judul materi : Perkembangan Anak Usia 2-4 tahun.
Hari / Tanggal : Kamis / 26 November 2015
Pemateri : Chairunnisa Rizkiah, S.Psi
Peresume : Julia Sarah, S.Hum
-------------------------
Menurut saya pribadi, perkembangan di usia 2-4 tahun itu paling menakjubkan. Di rentang usia ini, benar-benar terasa kalau anak bukan lagi bayi yang masih kecil dan sudah siap untuk belajar lebih banyak hal baru.
Umumnya dalam ilmu perkembangan, anak rentang usia sampai 36 bulan masih disebut toddler. Toddler itu kurang lebih artinya berjalan dengan masih pelan-pelan dan masih berusaha menjaga keseimbangan. Mirip-mirip pinguin gitu, hehe. Kalau di Indonesia, kita lebih kenal istilah batita (bayi di bawah tiga tahun). Di usia ini, perkembangan motorik yang paling menonjol bisa dikatakan adalah keseimbangan anak sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Di usia 2 tahun umumnya anak sudah bisa berlari dan melompat-lompat. Dalam aspek kognitif, perubahan paling signifikan dibandingkan usia sebelumnya adalah perkembangan bahasa.
Anak di usia 2-3 tahun mempelajari banyak kata-kata baru dan mulai berusaha berbicara. Anak usia 2 tahun sudah bisa bicara dengan 1 atau 2 kata sederhana, selanjutnya berkembang jadi kalimat sederhana dgn 2-3 kata. Sedangkan dalam aspek psikososial, anak sudah mulai berinteraksi dengan anak lain dan terlibat dalam kegiatan bermain. Anak tidak lagi hanya mengenal anggota keluarga tapi juga mulai melakukan kegiatan dengan teman sebaya. Atau setidaknya anak mulai memperhatikan anak lain saat bermain dan menunjukkan ketertarikan. Ada juga anak yang akan lebih dulu menyapa orang lain.
Usia 3-4 tahun sudah masuk ke masa early childhood (masa kanak-kanak awal) atau disebut juga masa prasekolah. Di usia ini anak-anak biasanya sudah mulai terpapar dengan kegiatan yang berhubungan erat dengan akademik, misalnya memegang alat tulis, mengenal simbol (huruf, angka, dll) walaupun tidak harus selalu diikutkan ke sekolah formal. Kematangan motorik, kognitif, dan psikososial pada anak di usia 3-4 tahun ini menunjang kesiapannya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut.
Perkembangan motorik kasar dan motorik halus di usia 3-4 tahun ini semakin baik. Pada usia ini, otot anak lebih kuat, keseimbangan lebih baik, dan ditunjang perkembangan kognitif yang lebih advanced sehingga ia bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang sebelumnya masih sulit untuknya.
Contoh kegiatan motorik kasar adalah belajar naik sepeda, belajar memakai pakaian sendiri, naik-turun tangga, lari dan lompa. Contoh kegiatan motorik halus adalah belajar memegang peralatan makan, mengambil benda kecil dengan ujung jari, membuat coreran-coretan dan meniru bentuk, serta menggunakan gunting dan lem. Dalam aspek psikososial, anak lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya atau anak-anak lain. Karena perkembangan bahasa mereka juga sudah lebih baik, anak sudah bisa mulai berkomunikasi secara verbal untuk menyampaikan isi pikirannya.
Anak juga mulai mengembangkan kemandirian dalam melakukan kegiatan, terutama dalam keterampilan-keterampilan baru yang ia sudah pelajari seperti makan sendiri, berpakaian sendiri, dan mengambil barang sendiri. Dengan kemampuan kognitifnya, anak juga sudah bisa mulai diperkenalkan dengan aturan yang berlaku.
------------------------
❓✔️ Tanya Jawab :
1. Boleh ikutan nanya ya bunda...anakku usia 2 tahun 10 bulan, gimana ya caranya biar anak percaya diri. Pernah ada kegiatan di sekolah anakku, jd anak yg kecil seusia anakku diminta utk tampil sambil pegang bendera kecil dikibar2in aja, gak disuruh ngomong ato nyanyi apa2. Anakku gak mau, dari sejak latihan sampe di hari H tetep gak mau tampil. Ini kenapa ya kira2? Aku agak khawatir karena terkadang kalau anakku misalnya mulai rewel atau minta sesuatu yg nggak kami kasih kalau kita lagi diluar, kita bilangnya "eh, diliatin sama mbak/ibu itu, malu loh, masa nangis2 gitu" Nah anakku biasanya berhenti nangis kalau sudah bgini. Ini kira2 apa karena sering kami beginikan, anakku jadi kurang pede ya, apakah ada kaitannya?
Makasih sebelumnya yaa bunda
(Salwa/Fatih(2y10m)/Jakarta/RMA4)
Jawab: Halo bunda Salwa. Mungkin bunda bisa coba cek:
apa sehari-hari anak memang tampil sebagai anak yg pemalu? Atau cuma kelihatan tidak PD ketika ia harus tampil di depan orang banyak?
apa pernah ada kejadian lain yg mirip, yaitu anak berada di situasi dimana dia harus "tampil" dan dilihat orang banyak? Bagaimana reaksi anak saat itu?
apa anak sejak dulu memang tidak tertarik pada aktivitas seni pertunjukan (menyanyi, menari/gerak dan lagu, main alat musik)? Atau justru kalau bersama orang2 yg dia kenal aslinya anak senang berekspresi lewat seni2 tersebut?
Anak ga mau tampil dgn cara apa? Menangis "ga mau! Ga mau!" (yg tandanya dia cemas dan takut) atau terkesan tidak berminat dan tidak termotivasi ("ga mau, ga suka")?
Kalau anak berhenti menangis setelah diberi penilaian "Malu tuh dilihat Mbak/ibu itu", berarti kita bisa kira2, anak tidak suka kalau "kelemahan" atau penampilannya yang kurang oke dilihat oleh orang lain. Saya tidak bisa langsung menyimpulkan "oh karena sering diancam seperti itu jadi anak kurang pede". Perkembangan psikososial anak dipengaruhi banyak faktor seperti pengalaman, reaksi dari orang2 di lingkungan, dan nilai-nilai yang dipelajari anak. Tapi yang pasti, kita bisa sepakat ya kalau "ancaman" seperti itu tidak tepat guna. Anak perlu belajar berhenti menangis dengan mengontrol dirinya sendiri (dengan bantuan arahan orang dewasa), bukan karena tidak enak dilihat oleh orang lain yang bahkan ia tidak kenal. Kalau masih keci sih "cuma" "malu dilihat orang", tapi lama2 orangtua bisa bablas merendahkan anak dgn "malu ah sama temen bunda...", "malu ah sama bu guru...","malu ah, anak lain ga ada yg nangis..." dan malu ah malu ah lainnya yang membuat anak merasa dirinya delalu dinilai oleh orang lain.
Jadi setelah cek pertanyaan2 saya tadi, kesimpulan apa yg bisa diambil tentang perilaku ananda yg tidak mau tampil di panggung? Apa dia pemalu? Atau ada demam panggung karena ditonton orang banyak? Atau dia tidak berminat pada kegiatan seperti itu?
Kalau ini, yg bisa jawab bundanya sendiri :) (Kiki)
------------
2. Aslm mba, mau bertanya : jika seorang ibu ingin memasukkan anaknya ke playgroup di usia 2 thn, dengan tujuan menumbuhkan self confidence dan kemampuan bersosialisasi dng usia sebaya. Pertimbangan apa saja dlm memilih PG yg sesuai utk perkembangan motorik, sensorik, dan kognitifnya.
Kmarin survey pg, ada metode habitual, montessori, dan sentra. Mohon pencerahannya :)
(Puri/Aksan(15m)/tangsel/RMA4
Anaknya msh 15 m mbak.. tp saya lg berfikir mau masukin pg usia 2 thn nanti.
Jawab : Halo bunda Puri.
Waah sudah siap sekolah yaa Aksan. Sebelumnya Bunda dan suami perlu juga merumuskan 'alasan' mengapa si kecil harus masuk PG. Pada sebagian besar Bunda yg bekerja biasanya disebabkan agar anaknya mendapat stimulasi yg tepat sebab orgtuanya bekerja. Namun, pd sebagian besar full time mother biasanya menunda sementara sebab bisa mendampinginya di Rumah (faktor lain ada jg yg alasan ekonomi). Apapun 'alasan' itu, Bunda dan keluarga jg harus mempersiapkan serta melihat kesiapan di kecil. Mempersiapkan si kecil jg termasuk 'lulus toilet training'.
Hal lain yg perlu Bunda perhatikan ialah pemilihan sekolah. Tepat sekali jika Bunda sudah survey ke berbagai sekolah. Bunda dapat memilih sekolah yg lbh banyak 'bermainnya', sekolah yg tdk menekankan anak untuk mengisi lembar kerja, sebab fitrah anak usia dini ialah bermain. Salah satu hal yang dapat dilihat juga ialah lapangan sekolah yang luas.
Stimulasi perkembangan motorik anak usia dini akan lebih baik jika lebih diutamakan dibandingkan dengan stimulasi kognitifnya. Area lapangan yang luas disertai dengan ragam permainan yang dapat menstimulasi motorik kasarnya dapat menjadi salah satu tolak ukur pemilihan sekolah PG. Semoga menjawab ya, Bun (Sarah)
-------------
3. Kalau Rana, usia 2 tahun sdh banyak bicara, gunting2 dan lem pun sdh lancar. tapi kalau soal lompat 2 kaki masih ragu-ragu, adakah stimulasi yang bs saya lakukan secara psikologi, selain mengajaknya lompat di kasur atau di trompolin.
(Bunda Rana/Rana(29m)/Kupang/RMA4)
Jawab : Hai Bunda Rana yang baik. Untuk kemampuan melompat, dari contoh yang bunda berikan sepertinya melompatnya lebih ke arah atas. Anak yang baru belajar melompat lebih mudah untuk melompat ke arah depan (hopping, seperti kelinci dan kanguru). Meloncat ke atas (jump) setahu saya memang lebih sulit karena anak harus mengangkat seluruh badannya ke atas. Meloncat-loncat bisa di atas tempat tidur sambil diberi semangat juga baik, "ayo loncat loncat yang tinggi" dan diberi contoh, atau meloncatnya ya bersama-sama orangtua. Supaya lebih seru, bisa sambil bermain. Misalnya pura2 mau tangkap nyamuk atau pura2 jadi kelinci. Pakai musik juga bisa seru, misalnya menonton video kartun suara hewan sambil meniru gerakannya. Saya punya lagu favorit di kelas kalau ut meniru gerakan hewan, judulnya "Animal action". Mungkin bisa dicari di youtube Kalau kegiatan yg ini manfaatnya bukan cuma utk latihan melompat saja. Anak juga bisa diajak lihat targetnya sendiri. Misalnya, loncat sampai bisa menyentuh garis di dinding (lompat di tempat ke arah atas) atau lompat dari satu ubin ke ubin yg lain. Yang penting orangtua yg mendampingi sabar, krn anak juga belajar setahap demi setahap. Mudah-mudahan jawaban ini bisa membantu yaa (Kiki)
--------------
4. Uda A (4th) sebenarnya sdh bisa melakukan banyak hal sendiri, termasuk makan sendiri. Tapi klo di rumah ada saya (klo siang saya kerja), uda biasanya slalu minta disuapi. Apakah ini normal? Sampai umur berapa kira2 saya bisa mentoleransinya?
Erni/jakarta/RMA4
Jawab: Halo Bunda Erni. Wahh Uda hebat sudah bisa makan sendiri. Saat Uda meminta disuapi saat Bunda pulang bisa jadi sebenarnya ia sedang mencari perhatian Bundanya dengan cara tersebut. Usia 4 tahun, anak sudah bisa diajak berdialog, termasuk juga sudah mengerti rules sesuatu ya Bunda. Bunda bisa berdialog padanya mengapa ia senantiasa minta disuapi, juga berusaha tetap memintanya makan sendiri (dengan menguraikan alasannya) dan tentunya memberi perhatian ekstra kepadanya saat itu dalam bentuk yang lain. Tetap semangat, Bunda. Uda hanya ingin diperhatikan =) (Sarah)
----------------
5. Anak saya usia 2th 5bln kemampuan psikososialnya msh kurang. Enggan bermain dg anak2 sebaya kecuali dg anak2 yg dia kenal. Kalo bermain di playground cenderung menolak bermain dg teman2nya.jika ditempat yg asing masih takut dg orang asing. Kecuali jika didatangi tamu, dy tidak takut. Sy bekerja, suami bekerja 2 minggu sekali keluar kota. Bagaimana ya cara agar anak saya mau bergaul? Apakah menyekolahkan di paud adl cara yg tepat?
Yulia/tangerang/2th5bln/RMA4
Jawab: Halo Bunda Yulia.
Reaksi anak saat bertemu orang asing dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal di antaranya berupa temperamen, yaitu kecenderungan untuk bereaksi dengan pola tertentu di beragam situasi. Ada anak yang “anteng” dibawa ke mana saja dan cepat beradaptasi dengan orang baru (easy child), ada anak yang di awal cenderung menjaga jarak tapi sebenarnya hanya butuh waktu untuk mulai mau berinteraksi dengan orang baru (slow to warm up child), dan anak yang untuk didekati dan diubah jadwal rutinitasnya butuh usaha yang cukup keras (difficult child). Faktor eksternal berupa cara orangtua mengajari anak tentang orang asing. Apakah anak diajari untuk dapat menghadapi orang asing, atau justru ditakut-takuti bahwa orang asing itu jahat (“kalau ga stop nangisnya nanti dibawa sama tante itu loh”, “nanti dipanggilin pak polisi loh”, dll), atau sebaliknya orangtua terlalu mudah membiarkan anak disentuh (misalnya anak dicubit-cubit pipinya atau langsung digendong) dan diberi sesuatu oleh orang yang bahkan tidak dikenal juga oleh orangtua.
Nahh..anak Mba Yulia termasuk yang manakah?
Anak slow to warm up dan difficult di awal kelihatannya sama. Bedanya, anak slow to warm up belum mau bergabung di kegiatan baru atau berinteraksi dengan orang baru karena dia merasa perlu "Cek ombak" / lihat medan dulu baru merasa nyaman. Sedangkan pada anak yang temperamennya difficult, tempat baru berarti rutinitasnya berubah dan dia frustrasi. Anak difficult juga biasanya tidak teratur dalam pola sehari2, misalnya jam mengantuk, jam lapar, dan jam buang air besar. Jadi anak mba difficult atau slow to warm up? :)
Bagi anak yang masih sangat kecil, rutinitas yang mendadak berubah bisa bikin kaget dan takut. Sebelum pergi main ke taman, apa anak sudah diberitahu nanti akan pergi ke mana dan akan ada apa/siapa di sana? Anak juga butuh persiapan untuk menghadapi hal baru. Ada anak-anak yang walaupun takut-takut tapi masih mau sedikit mendekat kalau ditemani orangtuanya, apalagi kalau memang masih kecil, di bawah 3 tahun.
Oia, semakin banyak pengalaman anak bertemu dengan orang baru (TPA, playgroup, sepupu, tetangga, dll) anak bisa belajar untuk melatih keterampilan sosialnya. Makanya memang acara bermain jadi sarana yang baik juga untuk mengekspos anak ke lingkungan sosial. Kalau anak awalnya tidak mau, diajak pelan-pelan saja sambil terus didampingi. Anak juga belajar kok selama proses itu, tapi dengan caranya sendiri. Kalau untuk memasukkan ke paud bisa cek jawaban nomor 2 yaa. Untuk mempersiapkan anak sekolah tentu ada banyak faktornya, bukan semata-mata agar anak mampu bersosialisasi saja. :) Semangat dan terus bersabar, Bunda (Sarah dan Kiki)
--------------
6. Zahwah sudah mulai suka pengAKUan. Maksudnya semua benda dibilangnya.."nyak (punya) aku ini.." bahkan tahan rebutan sampai si "lawan" kalah dan nangis.. sampai saya gk enak hati.. Ini gm ya bunda.. saya pernah baca sikap ini ada sisi baiknya juga.. bahwa si anak belajar mempertahannkan miliknya (mohon koreksi jika salah hee).
Bagaimana cara menyampaikan ke anak cara berbagi ya bunda..
Terimakasih penjelasannya
Septi/lampung/2thn 2bln/RMA.4
Jawab : Hai Bunda Septi, sifat ‘ego’ yang dimiliki anak 0-5 tahun memang masih sangat tinggi yaa sehingga anak masih enggan untuk berbagi. Anak tidak mau berbagi mainannya di usia seperti itu adalah hal yang lumrah. Kenapa? karena dia masih egosentris, dan sedang belajar konsep kepemilikan, bahwa apa yang menjadi miliknya adalah haknya. Itu bagus. Inilah mengapa anak-anak suka berebutan mainan ya, Bun. Anak-anak usia dini memang masih perlu pengawasan dan pendampingan oleh orang dewasa saat bermain. Dalam hal ini, pengawasan yang dimaksud ialah pengawasan dari ‘luar arena’ bermain si anak, orang tua boleh turun tangan jika ada nilai-nilai yang tidak tepat dilakukan anak saat ia bermain, misalnya : anak berantem.
Karena dalam usia ini anak masih beranggapan bahwa semua barang ialah miliknya, maka konsep "bergantian" akan lebih mudah ia terima dibandingkan konsep "berbagi" (dalam pandangan anak, istilah berbagi berarti barangnya tidak kembali lagi, hihi). So, Bunda bisa mengajaknya untuk "mainnya bergantian yaa." Bunda bisa membuat jam2an yang dapat diputar jarum menitnya untuk memudahkan anak mengetahui batas waktu ia bermain dan bergantian. "Kakak main sampai jarum panjangnya di angka ini ya. Teman Kakak nanti dari angka ini ke angka ini." Semoga membantu ya, Bun. (Sarah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar