Jumat, 27 November 2015

Bahagia menjadi Emak Rempong


Resume Seminar Parenting Teh Kiki Barkiah " Bahagia menjadi Emak Rempong" ( ditulis oleh Shinta Rini)

Ahad, 18 October 2015 di Bandung

Teh Kiki menjelaskan satu persatu apa saja yang menjadi penyebab tidak sabarnya kita saat mengasuh anak-anak.

1. Tidak sadar amanah Vs Sadar Amanah

Kalau Ibu sadar bahwa anak adalah amanah dari Allah yang pasti akan diminta pertanggungjawabannya di akherat kelak, maka kita akan berhati-hati mendidik dan menjaga amanah ini. Akan sangat berbeda ruhnya saat kita sadar bahwa anak adalah amanah dan tidak sadar kalau anak adalah amanat dari Allah. Tidak semua orang tua ditakdirkan memiliki anak meski sudah berupaya kuat dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit, maka syukurilah kalau kita diberi amanah Allah berupa anak.

2. Tidak sadar perintah Allah Vs Sadar perintah Allah

Allah menyuruh kita menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka yang bahan bakarnya berasal dari manusia dan batu ( TQS At-Tahrim : 6). Ibu diperintahkan Allah untuk menjaga kesucian fitrah anak dari segala pengaruh buruk yang merusak anak. Kalau kita menyadari pentingnya tugas ini, maka kita akan lebih sabar untuk menjalani ketidaknyamanan di dunia supaya kita selamat bersama keluarga di akherat kelak.

3. Menganggap anak sebagai beban Vs menganggap anak sebagai karunia

Cara pandang kita melihat apakah anak sebagai beban atau anak sebagai karunia, akan menentukan seberapa besar usaha kita untuk sabar mendidik anak-anak meski banyak kesusahan yang harus kita alami. Level sabar Ibu yang memandang anak sebagai karunia tentu akan berada di level sabar yang tinggi. Ibu juga tidak akan mudah mengeluh dengan segala polah tingkah laku anak yang bikin emosi kita naik turun.

4. Hubungan pasangan suami istri yang tidak harmonis Vs Harmonis

Kebahagiaan seorang Ibu akan menjadi modal besar untuk mengasuh anak-anak dengan penuh kesabaran. Jiwa kita tidak boleh kosong karena kurangnya pasangan menyapa jiwa kita. Seringkali kekesalan pada suami, mendorong kita melampiaskan ke anak-anak kita. Maka perbaikilah hubungan yang harmonis dengan pasangan supaya kita lebih bahagia menghadapi segala tingkah laku anak.

5. Beban dalam pekerjaan Vs Nikmat bekerja

Kita harus bisa mengatur kesibukan sesuai dengan usia anak. Kalau memang anak-anak masih kecil, maka menunda bekerja di luar rumah supaya kita tidak membawa stress kerja ke dalam rumah dan bisa fokus mengasuh anak terlebih dahulu adalah pilihan yang terbaik. Bukan akhir segalanya kalau kita hanya menjadi Ibu Rumah Tangga dan fokus mengasuh anak-anak. Setelah anak-anak besar, kita bisa mencoba bekerja lagi sesuai dengan passion kita.

6. Tengah mengalami himpitan Vs Kelapangan

Saat kita diuji Allah berada di kondisi yang terhimpit dan sempit, misalnya suami diuji diberhentikan dari pekerjaannya atau saat pendapatan suami yang tidak cukup di akhir bulan, maka kita harus berlapang dada dan mempertebal ketaqwaan kepada Allah untuk bekerjasama menghadapi permasalahan bersama-sama. Yakinlah bahwa setiap kesulitan selalu diapit oleh dua kemudahan. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan kalau kita berusaha mencari solusi dan memohon petunjuk pada Allah.

7. Minim ilmu pengetahuan anak Vs Tahu Ilmu

Saat kita memiliki pengetahuan tentang perkembangan anak dan otak anak, maka kita akan mudah berekspetasi dengan tepat dan siap menemani tumbuh kembang anak.

8. Tidak memiliki kesamaan visi dengan lingkungan Vs Sevisi

Kadang kita berusaha mendidik anak dengan baik dirumah, namun kita mendapati lingkungan yang tidak sevisi dengan kita, seperti perilaku tetangga yang buruk, pergaulan yang bebas dilingkungan sekitar rumah, bahasa-bahasa kotor anak-anak sekitar rumah atau di sekolahnya. Kalau suami dan istri kompak dan memiliki kesamaan visi tentang mendidik anak, maka kita berdua akan lebih sabar menyelesaikan segala akar permasalahan dalam mendidik anak yang bertentangan dengan lingkungan kita.

9. Mengalami kelelahan Vs Prima

Kalau kita capek biasanya rentan stres dan meluapkan emosi marah, oleh karena itu kita harus peka dengan kondisi tubuh kita. Saat mengenali kondisi tubuh yang hampir lelah dan ingin marah, maka kita harus istirahat, makan dengan cukup, rileks sejenak dan meminta bantuan suami untuk menemani anak-anak. Saat weekend mungkin kita bisa gunakan waktu untuk “me time”, piknik atau beristirahat santai di rumah.

10. Kegiatan tidak teratur Vs teratur

Kegiatan harian yang sudah dijadwalkan secara teratur akan lebih mudah bagi kita mengatasi segala kerepotan mengurus rumah dan mendidik anak-anak. Bikin jadwal untuk kegiatan anak sehingga anak belajar mengelola dan mengatur kegiatannya sendiri. Kebiasaan melakukan kegiatan secara teratur akan memudahkan anak untuk memprediksi kegiatan yang akan dikerjakan dan anak sangat suka dengan keteraturan.

11. Terkejar tenggat waktu Vs mengatur waktu

Kita kadang selalu mengerjakan sesuatu secara terburu-buru dan mengharapkan anak bisa mengerjakan kegiatan dengan cepat. Anak-anak sebenarnya mudah diajak bekerjasama. Saat kita ingin mengajak anak pergi jalan-jalan, maka kita sebaiknya menjelaskan kepada anak sebelum berangkat supaya anak bisa mengatur waktunya dan bisa bersiap-siap tanpa terburu-buru.

Kalau kita dirumah mengurus bisnis online yang memiliki deadline, maka kita harus bisa mengelola waktu dengan tepat. Jangan sampai kita marah pada anak karena kita terlalu sibuk melayani pembeli yang mungkin labanya hanya Rp 10.000-20.000 saja. Kebutuhan untuk memberi perhatian pada anak, nilainya lebih besar daripada kita mengejar laba bisnis online yang tidak seberapa itu. Kita harus bijaksana mengontrol waktu dengan mengatur porsi waktu kita antara mengasuh anak, mengurus rumah, beribadah dan berbisnis online, karena masa-masa mengasuh anak yang terlewat tidak akan pernah bisa kembali lagi.

12. Cuaca lingkungan yang tidak nyaman Vs lingkungan nyaman

Biasanya cuaca panas dan gerah sering mengakibatkan orang tua rentan untuk meluapkan emosi dan kurang peka sehingga kurang sabar mengasuh anak-anak. Ciptakan suasana yang nyaman dan “adem” dilingkungan rumah kita. Kalau ada rezeqi lebih, boleh lho minta pasang AC dirumah hehe.

13. Lingkungan padat Vs lingkungan damai

Saat suami bekerja di lingkungan yang tempatnya jauh dari rumah, pasti suami akan capek di jalan sehingga menjadi kurang sabar dalam mendidik anak-anak. Kita kadang sering meminta suami cepat pulang supaya kita bisa “ beristirahat sejenak” untuk mengasuh anak sehingga saat suami pulang kita ingin suami segera melanjutkan estafet mengurus anak padahal saat itu suami juga sama-sama lelah. Akhirnya kita berdua menjadi kurang sabar dalam mendidik anak. Ibu boleh mengkondisikan rumah berantakan saat suami ada dikantor. Tetapi di sore hari Ibu bisa mengajak anak-anak untuk merapikan rumah, memandikan anak, memberi makan anak sehingga saat suami pulang ke rumah akan senang disambut anak-anak yang rapi. Bantu suami membersihkan diri, menyediakan makan dan istirahat sejenak sehingga siap bermain dengan anak-anak.

Teh Kiki juga membagi resep sabar menjadi Emak Rempong Bahagia, yaitu :

1. Pahami anak adalah anugrah.

Kalau kita menyakini bahwa anak adalah anugrah dan simpanan di akherat, maka kita lebih mudah untuk sabar mendidik anak-anak di setiap kondisi.

2. Ingat apa yang ditanam, maka itulah yang akan dipanen.

Pastikan untuk selalu menanam kebaikan ke dalam diri anak-anak. Kalau kita sering membentak dan memarahi anak, maka sel-sel otak anak akan rusak, anak menjadi pembangkang dan tidak dekat dengan kita. Kalau kita sering mengajarkan kebaikan untuk anak-anak kita maka anak-anak akan menyayangi kita dan berbuat kebaikan yang kita latih, maka kita pun mendapatkan pahala dan kebaikan dalam mengajarkannya.

3. Ingat cobaan dan amanah sudah ditakar.

Allah kasih ujian kepada kita melalui anak-anak kita itu sudah terukur sesuai kesanggupan kita. Maka yakinlah kalau Allah mengizinkan ujian itu menimpa kita, maka Allah pasti akan membantu kita. Jangan batasi stok sabar kita, karena nantinya kita akan mudah menyerah. Yakinlah stok sabar kita tidak terbatas sehingga kita lebih mudah berlapang dada dan sabar menyelesaikan ujian satu persatu.

4. Curhat dulu ke Allah.

Allah adalah sumber kemudahan dan petunjuk, maka sebelum curhat ke suami atau teman maka sebaiknya curhat dulu ke Allah supaya Allah memberi kita kekuatan dan kesabaran untuk bisa menjalani ujian dan kesulitan yang menimpa kita. Ibu-ibu yang banyak curhat di facebook biasanya kurang mendapatkan perhatian dari suami dan “kurang” curhat ke Allah. Jadi suami juga harus paham dan hapal kalau Istri kadang cuma butuh di dengarkan kalau sedang curhat masalah anak atau urusan rumah tangga.

5. Fitrah anak itu baik.

Tugas Ibu dan Ayah adalah menjaga kesucian fitrah . Jauhkan anak dari bahaya pornografi yang merusak otak anak sehingga sulit untuk belajar, beribadah dan berbuat kebaikan. Banyak ajarkan perilaku baik yang mendatangkan kebaikan buat anak dan berpahala. Bacakan buku-buku yang baik juga supaya anak mudah meniru perbuatan baik yang dilakukan sang tokoh kebaikan.

6. Ingat manusia diberi 2 jalan, jujur dan fujur (kejahatan).

Takwa dan istiqomahlah kita dalam mengajarkan kebaikan kepada anak-anak kita. Anak-anak kadang bereksplorasi untuk mengetahui hubungan sebab-akibat dan daya imajinasinya yang tinggi dalam berperilaku, bukan berarti dia nakal dan ingin melakukan kejahatan yang membuat kita marah.

7. Lihat lebih dalam motif dan alasan dibalik perbuatan anak.

Saat kita melihat anak-anak yang mencoret-coret tembok dengan kata-kata “ I love you Mom” atau menulis di pintu mobil dengan paku “ I love you, Dad”. Apa reaksi pertama kita saat melihatnya ? Apakah kita akan langsung memarahi anak? Memukul anak? Atau memeluk anak sambil mengucapkan “Keren banget! I love you too”. Apresiasi ungkapan rasa cinta anak kepada kita, jangan memfokuskan pertama kali dengan perilakunya yang membuat kita marah ( mencoret-coret dinding dan merusak pintu mobil). InsyaAllah tembok yang kotor dan pintu mobil yang rusak masih bisa kita perbaiki, namun hati anak yang tersakiti, akan sulit kita obati.

8. Atasi permasalahan anak hingga ke akarnya.

Saat menemui perilaku buruk anak, jangan hanya melihat dari permukaannya saja, kita harus mencari akar permasalahannya. Misalnya saat melihat anak yang iri dengan adik kecilnya yang sering diajak main oleh Ayahnya, lantas dia mencari-cari mainannya saat dia masih kecil dan mengajak Ayah bermain bersama. Kalau kita paham bahwa ternyata anak sebenarnya sangat rindu bermain dengan Ayah dan Ayah bingung untuk melakukan permainan apa yang cocok dimainkan bersama anaknya yang beranjak besar, maka Ibu bisa menyarankan Ayah melakukan hobi bersama anak sehingga bisa saling ngobrol seru dengan sang Anak.

9. Pahami perkembangan anak dan kapasitas anak.

Saat kita mengetahui tahapan perkembangan anak, maka kita akan mampu sesuaikan target dan harapan sesuai dengan usia dan kapasitas yang dimiliki anak. Kita tidak akan menuntut kemampuan lebih diluar kapasitas anak.

10. Anak tidak terlahir seperti kertas kosong, tapi terlahir dengan potensi bawaannya.

Setiap anak adalah unik dan membawa potensi bawaannya yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Hargai semua kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak.

11. Negasi perilaku (misbehavior/ perilaku negatif  anak itu wajar).

Kalau anak melakukan perbuatan negatif jangan buru-buru menghakimi anak dan melabeli anak “nakal”. Kita harus mencari tahu apakah anak sudah tahu atau belum bahwa perilaku yang dia lakukan itu benar atau salah? Kalau belum tahu, maka kita harus sabar menjelaskan kepada anak.

12. Tetap istiqomah dan konsisten jalani aturan.

Kalau kita sudah menetapkan aturan bersama anak-anak dan suami, maka seluruh anggota keluarga harus menjalankan aturan itu dengan konsisten. Jika ada yang melanggar, maka harus mendapatkan konsekuensi atau sanksi yang sudah disepakati bersama keluarga.

13. Indentifikasi gangguan eksternal dan perubahan suasana hati anak.

Saat kita mendapati gangguan eksternal dan perubahan suasana hati anak, maka segera cek kebutuhan dasarnya apakah sudah terpenuhi. Gali apa yang menyebabkan suasana hati anak berubah, beri perhatian dan dengarkan anak.

14. Cari momentum yang pas untuk menasehati anak.

Saat anak melakukan kesalahan atau perilaku menganggu saudaranya, jangan menasehati anak saat masih marah, kesal atau sedih. Tunggu sampai anak merasa tenang dan nyaman. Saat menjelang tidur kita bisa membacakan buku anak dan ngobrol dengan anak, setelah itu beri nasehat dengan penuh kelembutan dan tidak menghakimi.

15. Lepas semua beban sebelum bertemu dengan anak.

Saat kita sedang lelah dan stress, maka kita bisa istirahat sejenak, wudhu dan sholat minta kemudahan sama Allah untuk kuat menghadapi ujian. Saat kita sudah pasrah dan tawakal sama Allah, maka kita siap keluar kamar untuk bisa mengasuh anak-anak lagi. Saat Ibu bekerja diluar rumah, siapkan dan hadirkan hati kita dengan melupakan semua beban pekerjaan kita di tempat kerja. Sambut pelukan anak-anak dengan wajah ceria dan perasaan rindu ingin bermain bersama mereka.

16. Kesehatan mental Ibu adalah modal penting untuk mengasuh anak.

Ibu yang bahagia dan mendapatkan perhatian yang cukup dari suami adalah modal untuk mengasuh anak-anak dirumah. Sapalah jiwa istri , bahagiakan istri dan hargailah setiap jerih payah istri yang sudah ikhlas mengasuh anak-anak dan mengurus rumah.

17. Sesuaikan gaya komunikasi sesuai usia anak.

Saat berkomunikasi dengan anak, maka kita harus menyesuaikan dengan usia anak. Kalau anak masih kecil, gaya komunikasinya memberi arahan dengan penuh kasih sayang. Kalau anak yang lebih besar, gaya komunikasinya lebih kepada diskusi. Sesuaikan gaya komunikasi kita dengan usia, temperamen dan karakter anak.

18. Agendakan komunikasi dengan pasangan.

Agendakan mengobrol dengan pasangan saat suasana santai untuk membahas anak-anak dan membuat planning untuk keluarga sebelum di diskusikan bersama dengan anak-anak. Dengarkan semua curhatan Istri supaya Istri merasa diperhatikan dan dihargai. Ciptakan hubungan yang harmonis supaya kompak dalam mengasuh anak-anak. 

19. Komunikasikan dengan lingkungan sekitar.

Saat kita ingin membuat aturan bersama keluarga untuk melatih kemandirian anak-anak, dan kakek neneknya datang berkunjung kerumah, maka kita harus memberitahukan perilaku apa saja yang sedang diterapkan dalam minggu itu sehingga kita bisa kompak bersama kakek neneknya untuk melatih kemandirian anak.

20. Mudahlah dalam memberi maaf.

Allah Maha Pemurah mengampuni semua dosa-dosa yang sudah kita kerjakan kalau kita bertobat dan memohon ampunan. Maka kita juga harus mudah memberikan maaf kepada anak-anak yang melakukan kesalahan, baik sengaja atau tidak sengaja dan tidak mengingat-ingat kesalahan anak-anak yang sudah dilakukan anak terdahulu. Kalau anak sudah meminta maaf, kita berlapang dada memaafkan dan melupakan kesalahannya. Anak juga manusia yang sering melakukan kesalahan, sama seperti kita bukan?

Semoga kita bisa kompeten dan sabar mengasuh dan mendidik anak-anak kita dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab.

Wallahu a’lam bishowab. Semoga bermanfaat

Terimakasih banyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar